Kuota Nyaris Habis, Pembatasan Pembelian BBM Subsidi Kian Mendesak

Ilustrasi BBM. (Antara)

Editor: Dera - Rabu, 3 Agustus 2022 | 08:00 WIB

Sariagri - BBM subsidi kini seakan menjadi permasalahan baru yang dihadapi negara. Pasalnya, kuota BBM subsidi kini dinilai sudah menipis sehingga dikhawatirkan menimbulkan kelangkaan. 

Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro, menyebut prediksi habisnya kuota BBM bersubsidi, terutama pada Pertalite, memang wajar terjadi. Peningkatan konsumsi Pertalite tahun ini makin meningkat seiring dengan hilangnya Premium dari pasaran.

Berdasarkan kalkulasi yang dilakukan Reforminer Institute, kebutuhan normal Premium adalah 28-30 juta kiloliter (kl). Menurut dia, konsumsi Pertalie sebelum adanya program penghapusan Premium sudah mencapai 22 juta kl dan konsumsi Premium status terakhir sekitar 6-8 juta kl.

“Jadi wajar kalo 23 juta kl maksimal hanya sampai Agustus atau September 2022 karena itu menjadi penting agar ada pengaturan tepat sasaran,” kata Komaidi di Jakarta, Selasa (2/8/2022).

Menurutnya, jika program subsidi tepat sasaran tersebut tidak dilakukan, lanjut Komaidi, pemerintah harus bergerak cepat memastikan ketersediaan kuota BBM. Namun itu tentu tidak mudah lantaran masih harus dibicarakan lagi dengan berbagai pihak, terutama parlemen.

“Kalau tidak mau ada pengaturan sederhana pemerintah tambah kuota. Sebagai pemerintah saya kira kondisinya tidak mudah,” kata Komaidi.

Pembelian BBM Subsidi dengan Aplikasi

Lebih lanjut dirinya menuturkan, langkah yang dilakukan Pertamina dengan menerapkan pembelian Pertalite dengan aplikasi, secara paralel adalah upaya maksimal perusahaan agar kuota 23 juta kl tidak terlampaui.

“Tentu itu sulit untuk dilakukan karena kuota normalnya perlu kisaran 28-30 juta kl per tahun. Maka bolanya ada pada pemerintah,” kata dia.

Pihaknya menilai, rencana pembatasan pembelian BBM subsidi melalui revisi Perpres dengan menggunakan aplikasi digital tetap akan sulit menahan jebolnya volume BBM subsidi tahun ini jika mekanisme penyaluran subsidi tetap ke barang.

“Tentu kalau efektif 100 persen sulit dilakukan (pengaturan pembatasan BBM subsidi). Namun ini sifatnya upaya yang bisa dilakukan untuk meminimalkan dampak saja. Memang idealnya subsidinya langsung, bukan ke barang. Sepanjang masih ke barang kebocoran akan tetap ada,” pungkasnya. 

Menurutnya, pengaturan subsidi tepat sasaran bisa saja diperuntukkan untuk roda dua atau kendaraan pelat nomor kuning. Namun pelaksanaan di lapangan pasti tidak akan mudah. Untuk itu, peran serta masyarakat juga sangat diperlukan untuk atasi kekurangan kuota BBM bersubsidi ini.

Baca Juga: Kuota Nyaris Habis, Pembatasan Pembelian BBM Subsidi Kian Mendesak
Daftar Harga Terbaru Pertalite dan Pertamax di Seluruh Indonesia Hari Ini

Sebelumnya Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi Gerindra Andre Rosiade mengatakan kuota yang sudah ditetapkan pemerintah pada tahun ini yakni sebesar 23,05 juta kl hanya bertahan sampai September 2022.

Dia mendorong pemerintah segera duduk bersama pihak terkait seperti Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, Pertamina, dan BPH Migas, untuk membicarakan penambahan kuota BBM jenis Pertalite.

Video Terkait