Awas, Harga BBM Naik Bisa Bikin Anjlok Kepercayaan Konsumen

Ilustrasi sejumlah kendaraan mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Pertamina di rest area kilometer 57 Jalan Tol Jakarta-Cikampek, Jawa Barat. (Antara)

Editor: Yoyok - Rabu, 3 Agustus 2022 | 17:30 WIB

Sariagri - 

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi, Pertalite dan Solar, hanya tinggal menunggu waktu saja. Sebab, harga minyak mentah terus bergolak di atas 100 dolar Amerika Serikat (AS) per barel sementara anggaran untuk subsidi makin membengkak menjadi lebih dari Rp500 triliun.

Sekalipun membebani anggaran, pemerintah tampaknya masih mengulur-ulur waktu untuk menaikkan harga BBM. Alasannya, pemerintah masih cukup kuat mengelola anggaran tekor BBM, sekalipun dananya dari utang sekalipun.

Presiden Joko Widodo mengungkapkan beban anggaran subsidi untuk BBM sangat besar sehingga sulit bagi negara lain melakukan kebijakan yang serupa. “Negara mana pun nggak akan kuat menyangga subsidi sebesar itu. Tapi sekali lagi, alhamdulillah kita masih kuat menahannya sampai sekarang ini. Ini yang patut kita syukuri bersama-sama," ujarnya, awal bulan ini.

Mengambil keputusan menaikkan harga BBM di saat kondisi dalam dan luar negeri sedang tidak baik-baik saja bukan perkara mudah. Banyak faktor yang harus dipertimbangkan, termasuk sosial politik. 

Itulah sebab, saat ini pemerintah memiliki dua pilihan dan keduanya sama-sama berat. Pilihan pertama, tidak menaikkan harga BBM dengan risiko anggaran negara jebol. Kedua, menaikkan harga BBM namun rakyat akan menjerit karena kebutuhan pokok akan naik juga.

Tak cukup itu, pemerintah juga harus mempertimbangkan Survei Danareksa Research Institute (DRI) yang mencatat Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) pada Juni 2022 turun sebesar 89,1 dari bulan sebelumnya yang sebesar 90,9.
Penyebab turunnya IKK tersebut karena indeks situasi saat ini dan indeks ekspektasi turun secara berturut-turut. Indeks situasi saat ini dan indeks ekspektasi keduanya turun berturut-turut sebesar 3,9 persen month to month (mom) dan 1,3 persen mom. Bersamaan dengan itu, keyakinan konsumen pada indeks pemerintah sedikit turun sebesar 0,2 persen mom. 

Kemudian berdasarkan kelompok pendapatan penurunan IKK paling banyak terlihat di kelompok berpendapatan tinggi sebesar -4,0 persen secara mom. Ini terjadi seiring dengan kenaikan tarif BBM dan listrik nonsubsidi. Kenaikan harga BBM memberikan korelasi negatif terhadap pergerakan IKK. 

Menurut survei DRI, rata-rata sejak 2015 kenaikan harga BBM telah menurunkan IKK hingga 6 poin. Tetapi dengan kenaikan harga pangan terutama cabai dan bawang merah yang berlanjut pada Juli 2022, telah menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap semua kelompok pendapatan.

Secara umum, nilai IKK masih di bawah 100 sejak pandemi dimulai di Indonesia pada 20 Maret lalu. Ini menunjukkan indikasi bahwa kepercayaan masyarakat terhadap kondisi perekonomian saat ini belum terlalu optimis. 

Selain itu, untuk saat ini konsumen tidak yakin terhadap kondisi ekonomi nasional. Hal itu karena kenaikan-kenaikan harga makanan dan jasa belum melambat. 

Di sisi lain, ketersediaan lapangan kerja secara bulanan membaik karena sektor riil tetap berada di zona ekspansi selama kuartal ke II tahun 2022. 

Baca Juga: Awas, Harga BBM Naik Bisa Bikin Anjlok Kepercayaan Konsumen
Harga Minyak Naik Saat Eropa Akan Larang Secara Bertahap Impor Rusia

Adapun pada Juli 2022, indeks ekspektasi turun 1,3 persen secara bulanan menjadi 113,6. Berdasarkan survei yang telah dilakukan, mayoritas konsumen memperkirakan kenaikan harga pangan akan terus berlanjut hingga enam bulan ke depan.

Berdasarkan pengalaman banyak negara, penurunan kepercayaan konsumen bisa merembet ke daya beli. Jika ini terjadi akan menimbulkan gejolak sosial dan ujungnya adu strategi memainkan panggung politik. 

Video Terkait