Dihantam Krisis Energi, Pasar Gelap BBM Makin Marak di Negara Ini

Ilustrasi BBM. (Foto: Pixabay)

Penulis: Putri, Editor: Dera - Minggu, 7 Agustus 2022 | 15:00 WIB

Sariagri - Jutaan orang di Sri Lanka berjuang di tengah krisis ekonomi terburuk dalam sejarah negara mereka. Negara kehabisan cadangan devisa, membuat Sri Lanka tidak ada mampu impor kebutuhan penting seperti bahan bakar.

Mengutip laporan Channel News Asia, Minggu (7/8/2022), keadaan tersebut memaksa beberapa orang di Sri Lanka melakukan penjualan bahan bakar minyak (BBM) dengan cara ilegal. Hal ini dilakukan oleh Akshant, sopir bemo di Sri Lanka.

“Kami harus menunggu tiga sampai empat hari untuk mendapatkan bahan bakar dan kami hanya bisa mendapatkan 2.500 rupee dan itu tidak cukup," jelas Akshant, bukan nama sebenarnya.

"Jadi, beberapa orang akan menjual bahan bakar dari kendaraan mereka dan menjualnya dengan harga yang lebih tinggi. Saya juga sudah mulai melakukannya," tambahnya.

Akshant mendapat untung dari penjualan bahan bakar secara ilegal selama beberapa bulan terakhir. Di SPBU, satu liter bensin seharga sekitar 450 rupee Sri Lanka (sekitar Rp18.588). Tapi di rumahnya, di mana kontainer bensin disimpan untuk perdagangan gelap, dia menjualnya seharga 2.500-3.000 rupee per liter (Rp103.267-Rp123.921).

“Pelanggan saya adalah pengendara sepeda motor dan pengemudi bemo. Pemilik kendaraan lain tidak membeli dari saya karena mereka membutuhkan 50-60 liter. Saya tidak bisa memberi mereka sebanyak itu," katanya.

Negara kepulauan berpenduduk 22 juta orang itu secara resmi gagal melakukan pembayaran bunga utang. Keruntuhan ekonominya sangat mengganggu berbagai aspek kehidupan dengan melonjaknya biaya hidup dan kekurangan bahan bakar dan obat-obatan.

Menurut Menteri Tenaga dan Energi Sri Lanka, Kanchana Wijesekera, impor bahan bakar akan dibatasi selama 12 bulan ke depan. Hal tersebut memunculkan pasar gelap BBM. 

Penjatahan Pembelian BBM

Semua pengendara di Sri Lanka wajib mendaftarkan kendaraannya ke pemerintah untuk mendapatkan Tiket Bahan Bakar Nasional. Setelah diverifikasi, setiap kendaraan akan diberikan kode QR tertentu yang dapat digunakan untuk membeli bahan bakar di SPBU.

Setiap kode QR dilengkapi dengan kuota mingguan untuk bahan bakar dan jumlahnya berbeda sesuai dengan jenis kendaraan. Pengemudi bemo misalnya, bisa mengisi tangki mereka dengan bahan bakar hingga 5 liter di SPBU setiap minggunya.

Pengendara dengan kendaraan yang lebih besar dialokasikan kuota yang lebih besar. Meskipun ada sistem penjatahan, antrean panjang tetap ada di luar SPBU.

“Kadang-kadang, tidak ada bahan bakar di gudang. Jadi, kita harus menunggu dalam antrean sampai datang. Bisa sehari, dua hari, atau tiga hari. Selama waktu itu, kami harus tetap di dalam mobil, makan makanan kami di sana dan menunggu,” kata sopir bernama Frank Joseph Alvis.

"Sangat panas. Anda tidak bisa menyalakan AC karena tidak ada bahan bakar,” tambahnya.

Saat antrean bergerak maju, pengendara akan mendorong kendaraannya alih-alih menyalakan mesin untuk menghemat bahan bakar sebanyak mungkin.

Menurut beberapa pengemudi, sistem kode QR secara ketat membatasi alokasi bahan bakar dan mempersulit penyimpanan untuk penjualan ilegal. Namun, ada cara untuk menghindari kebijakan tersebut.

Baca Juga: Dihantam Krisis Energi, Pasar Gelap BBM Makin Marak di Negara Ini
Perbandingan Harga BBM di Indonesia dengan 6 Negara Ini, Mana Lebih Murah?

“Saya mendapatkan satu tangki penuh bensin dengan memberikan uang tambahan kepada seorang pekerja di pom bensin,” kata Akshant.

“Beberapa pengemudi bus juga melakukan bisnis yang sama dengan diesel. Mereka membelinya, membongkarnya dan menjualnya dengan harga lebih tinggi,” tukasnya.

Video Terkait