Jokowi Ngeluh Subsidi BBM Bengkak Rp502 Triliun, Ini Saran Pengamat

Ilustrasi SPBU. (Antara)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Dera - Senin, 8 Agustus 2022 | 15:15 WIB

Sariagri - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) membengkak hingga Rp502 triliun. Bahkan, Jokowi menyebut negara manapun tidak akan kuat menahan beban subsidi sebesar itu. 

"Perlu kita ingat subsidi terhadap BBM itu sudah sangat terlalu besar, dari Rp170-an (triliun) sekarang sudah Rp502 triliun. Negara manapun enggak akan kuat menyangga subsidi sebesar itu, tapi sekali lagi, alhamdulillah kita masih kuat menahannya sampai sekarang ini," ujar Jokowi, Senin (1/8).

Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif Indonesia Resources Studies (Iress) Marwan Batubara menilai penyaluran BBM Subsidi dari pemerintah belum tepat sasaran. Bahkan menurutnya, berdasarkan kajian Bank Dunia dan Pemerintah itu sendiri diakui lebih dari 40 persen BBM  tidak tepat sasaran.

"Jadi dikhawatirkan memang ada moral hazard untuk harga (BBM Subsidi) tetap rendah, tapi sektor-sektor yang tidak berhak (Industri pertambangan dan perkebunan) ini justru menikmati dan diuntungkan atau terllibat untuk supaya harga BBM tidak naik-naik. Tapi disisi lain kan itu menjadi beban APBN yang nilainya itu ratusan triliun," ujarnya kepada Sariagri. 

Harga BBM Subsidi

Soal harga BBM subsidi, Marwan menyarankan agar pemerintah melakukan berbagai perbaikan. Salah satu yang diusulkan adalah mengacu pada indeks harga komoditas lainnya, sehingga nantinya bisa disimpulkan berapa harga yang pas untuk BBM subsidi.

Selanjutnya ia juga mengatakan perlu ada sistem harga yang mengikuti pita harga, sehingga terbentuk penetapan harga maksimum dan minimun.

Baca Juga: Jokowi Ngeluh Subsidi BBM Bengkak Rp502 Triliun, Ini Saran Pengamat
Simak, Begini Cara Daftar Offline MyPertamina di SPBU

Selain itu juga diperlukan strategi lainnya, yakni dengan membuat dana stabilisasi. Misalnya harga minyak dunia turun, harga BBM dalam negeri tidak perlu turun sesuai harga keekonomian tapi ditahan saja agak tinggi. Dari situlah ada dana untuk yang disimpan sebagai dana stabilisasi.

"Kemudian ketika harga dunia naik, maka tidak perlu menyesuaikan dengan harga minyak dunia yang naik. Bagaimna cara menurunkannya? gunakanlah dana yang disimpan tadi yang disebut dana stabilisasi," terangnya.

Video Terkait