Harga BBM Bakal Naik, Ekonom Sebut Inflasi Bisa Lebih dari 7 Persen

Ilustrasi sejumlah kendaraan mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Pertamina di rest area kilometer 57 Jalan Tol Jakarta-Cikampek, Jawa Barat. (Antara)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Dera - Senin, 22 Agustus 2022 | 18:00 WIB

Sariagri - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyebutkan soal rencana Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pekan ini. Luhut menyebut Presiden Jokowi telah mengindikasikan bahwa pemerintah tidak bisa terus mempertahankan harga solar dan pertalite saat ini.

Menanggapi hal itu, Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto mengatakan jika harga BBM memang naik, maka akan memengaruhi inflasi. Ia mengatakan secara umum yang memiliki andil besar tehradap inflasi adalah kenaikan solar, karena BBM jenis ini dipakai untuk tranportasi umum, seperti kapal.

"Kalau soal proyeksi sebenarnya masih relatif, apakah akan naik baik pertalite, pertamax, dan solar atau hanya salah satu atau salah dua dari ketiganya. Selain itu, besarnya kenaikan juga memengaruhi (inflasi),"kata Eko kepada Sariagri melalui pesan singkat, Senin (22/8).

Sementara itu, jika harga pertalite ikut naik maka dampaknya juga cukup besar pada inflasi, karena penggunanya mayoritas pemilik kendaraan pribadi. Ia menyebutkan 80 persen kendaraan pribadi menggunakan BBM jenis pertalite.

"Perkiraan saya, jika semua jenis BBM naik moderat (30%) di Agustus, maka inflasi tahunan bulan berikutnya (September) akan mencapai 7,25% yoy (years on years), lalu sedikit melandai di bulan berikutnya," ucapnya.

Baca Juga: Harga BBM Bakal Naik, Ekonom Sebut Inflasi Bisa Lebih dari 7 Persen
Kaget Harga BBM Bakal Naik, Puan Maharani: Ya Ampun!

Di tengah pemulihan ekonomi saat ini, Eko mengatakan inflasi di atas 6 persen tentu membebani masyarakat. Namun hal ini tidak akan menjadi beban jika diimbangi dengan bantuan sosial yang cepat dan merata, maka dampaknya secara ekonomi masih moderat untuk masyarakat menengah-atas.

"Serba sulit sih ini, jika (kenaikan harga bbm) ditunda, maka tahun depan sudah tahun politik, artinya semakin sulit mengambil kebijakan tidak populer. Solusinya kenaikan harga BBM secara moderat yang disertai dengan bantuan sosial untuk orang miskin," pungkasnya.