Menilik Alasan BBM Indonesia Masih Harus Disubsidi

Ilustrasi BBM. (Antara)

Editor: Dera - Senin, 12 September 2022 | 10:00 WIB

Sariagri - Pemerintah Indonesia secara resmi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite, Solar, Pertamax pada Sabtu, 3 September 2022. 

Keputusan tersebut diambil lantaran membengkaknya anggaran subsidi energi hingga memberatkan APBN. Diketahui anggaran subsidi energi yang semula berkisar Rp155 triliun, kemudian meroket menjadi Rp502,4 triliun. Bahkan anggaran subsidi energi diproyeksi mencapai Rp650 triliun pada tahun ini.

Selain itu, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) mengatakan salah satu alasan kenaikan ini karena sebagian BBM subsidi dinikmati kelompok masyarakat mampu.

"Dari 70 persen subsidi justru dinikmati oleh kelompok masyarakat yang mampu yaitu pemilik mobil-mobil pribadi," kata Jokowi dalam konferensi pers yang ditayangkan YouTube Sekretariat Presiden pada Sabtu 3 September 2022.

Jokowi menambahkan, uang negara seharusnya untuk subsidi masyarakat golongan ekonomi kurang mampu. Oleh sebab itu, sebagian dana yang semula dialokasikan untuk subsidi BBM akan dialihkan ke anggaran bantuan sosial.

Pentingnya BBM Subsidi 

Berbagai komoditi bisa disubsidi oleh pemerintah, salah satunya BBM. Subsidi bisa diberikan dalam bentuk uang atau barang yang diberikan oleh pemerintah pada perusahaan swasta maupun perusahaan pemerintah. 

Menurut BPS, tujuan pemberian subsidi adalah menjaga kestabilan harga, menutupi kerugian yang diderita perusahaan dan lain-lain. Data yang tercakup dalam perincian subsidi ini adalah subsidi bahan bakar dan subsidi pupuk. 

Keberadaan BBM subsidi sangat penting bagi masyarakat Indonesia yang mengalami kesulitan ekonomi. Biaya hasil penghematan dari pembelian BBM bisa dialihkan ke kebutuhan lain seperti untuk membeli kebutuhan pokok dan biaya lainnya. 

BBM subsidi juga bertujuan untuk mengatasi kondisi kelangkaan contohnya di daerah terpencil dan daerah yang mekanisme pasarnya belum berjalan.  

Selain itu menurut Departemen Perhubungan RI, hasil penghematan subsidi BBM bisa digunakan untuk membangun infrastruktur transportasi publik yang nyaman, aman, dan murah. Nantinya diharapkan masyarakat terdorong beralih dari mobil pribadi ke angkutan umum. Dengan begitu, kemacetan dan kesemerawutan lalu lintas bisa dikurangi.

Hambatan Program BBM subsidi

Meski demikian, masih ada kesulitan dalam menjalankan program BBM subsidi ini. Menurut kajian Bank Dunia, sebanyak 77 persen alokasi subsidi BBM justru dinikmati oleh kelompok 25 persen rumah tangga dengan pengeluaran per bulan tertinggi. 

Sedangkan 25 persen kelompok masyarakat dengan pengeluaran terbawah hanya menikmati BBM subsidi sekitar 15 persen. Dengan demikian, subsidi BBM masih belum tepat sasaran dan tidak adil. Faktor ini juga yang menyebabkan tingginya konsumsi BBM dan membengkaknya anggaran untuk BBM subsidi. 

Baca Juga: Menilik Alasan BBM Indonesia Masih Harus Disubsidi
Pembatasan Beli BBM Subsidi Segera Berlaku, Erick: Agar Tepat Sasaran

Agar penggunaan BBM subsidi tepat sasaran, Pertamina mengeluarkan aplikasi MyPertamina. Aplikasi tersebut bertujuan untuk mendata masyarakat agar BBM bersubsidi bisa lebih tepat sasaran.

Aplikasi MyPertamina juga disebut-sebut sebagai usaha pencegahan potensi terjadinya penyelewengan atau penyalahgunaan BBM bersubsidi di lapangan. Data yang ada di aplikasi tersebut juga bisa digunakan untuk menetapkan kebijakan subsidi energi bersama pemerintah.

Video Terkait