Peralihan Gas ke Minyak Meningkat Jelang Musim Dingin, Harga Minyak Naik

Ilustrasi - Ladang minyak BP Eastern Trough Area Project (ETAP) di Laut Utara, sekitar 100 mill dari Aberdeen Skotlandia. (Antara/Reuters/Andy Buchanan/am).

Editor: Yoyok - Kamis, 15 September 2022 | 09:00 WIB

Sariagri - Harga minyak menguat, Rabu (14/9) atau Kamis (15/9) pagi WIB, karena pengawas energi internasional memperkirakan peningkatan peralihan gas ke minyak akibat lonjakan harga musim dingin ini, meski prospek permintaan tetap suram.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup naik 93 sen atau 1 persen menjadi 94,10 dolar AS per barel. Sementara, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate berakhir di posisi 88,48 dolar AS per barel, melonjak 1,17 dolar AS  atau 1,3 persen.

Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan perlambatan ekonomi yang semakin dalam dan ekonomi China yang goyah akan menyebabkan permintaan minyak global tersendat pada kuartal keempat tahun ini. Itu yang membuat harga di bawah tekanan akhir-akhir ini, dan dapat menghambat reli lebih lanjut.

"Saya pikir kita akan tetap dalam kisaran. Saya tidak berpikir 70 dolar AS per barel sangat mungkin, tetapi apapun yang lebih dari 100 dolar AS tidak dibenarkan," kata Eli Tesfaye, analis RJO Futures di Chicago.

IEA juga memperkirakan peralihan yang meluas dari gas ke minyak untuk tujuan pemanasan, mengatakan rata-rata 700.000 barel per hari (bph) pada Oktober 2022 hingga Maret 2023 - dua kali lipat tingkat tahun lalu. Faktor itu, bersama dengan ekspektasi keseluruhan untuk pertumbuhan pasokan yang lemah, membantu mendorong pasar.

Persediaan global turun 25,6 juta barel pada Juli, kata IEA.

Namun, di Amerika Serikat, persediaan minyak mentah melesat pekan lalu untuk minggu kedua berturut-turut, sekali lagi didorong oleh pelepasan yang sedang berlangsung dari Strategic Petroleum Reserve (SPR), data terbaru pemerintah menunjukkan. Stok komersial meningkat 2,4 juta barel setelah 8,4 juta barel dilepas dari SPR, bagian dari program yang dijadwalkan akan berakhir bulan depan.

"Angka minyak mentah menunjukkan begitu kita mengurangi waktu pelepasan Strategic Petroleum Reserve, kita akan melihat penurunan substansial dalam persediaan sehingga menjaga minyak tetap tinggi," kata Phil Flynn, analis Price Futures Group di Chicago.

Baca Juga: Peralihan Gas ke Minyak Meningkat Jelang Musim Dingin, Harga Minyak Naik
Harga Minyak Dunia Masih Fluktuatif, BBM Sulit Turun Lagi

Trader juga mengatakan minimnya kepastian tentang kemungkinan penghentian operasional kereta api Amerika akibat perselisihan perburuhan yang sedang berlangsung menambah sedikit dukungan ke pasar. Tiga serikat pekerja sedang bernegosiasi untuk kontrak baru yang dapat mempengaruhi pengiriman melalui kereta api, yang penting bagi pengiriman minyak mentah dan produknya.

Organisasi Negara Eksportir Minyak (OPEC), Selasa, mengatakan permintaan minyak global pada 2022 dan 2023 bakal lebih kuat dari ekspektasi, mengutip tanda-tanda bahwa ekonomi utama bernasib lebih baik dari perkiraan meski dibayangi sejumlah tantangan seperti lonjakan inflasi.