Ini yang Dilakukan Masyarakat Jika BBM Pertalite Benar-benar Dihapus

Ilustrasi sejumlah kendaraan mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Pertamina di rest area kilometer 57 Jalan Tol Jakarta-Cikampek, Jawa Barat. (Antara)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Reza P - Kamis, 15 September 2022 | 19:00 WIB

Sariagri - Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), Ahmad Safrudin mengatakan bahwa jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti Premium (RON 88), Solar (CN 48) dan Dexlite (CN 51) sudah seharusnya dihapuskan dari peredaran di Indonesia. Sebab, ketiga BBM jenis tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan teknologi kendaraan bermotor yang diadopsi Indonesia.

"Iya kalau usulan kami sudah dari 14 tahun yang lalu agar BBM jenis itu dihapuskan, yang kita anggap BBM kotor itu kan Premium 88, Pertalite 90 kalau solar 48 dan dexlite itu BBM kotor itu karena tidak sesuai dengan kebutuhan teknologi kendaraan bermotor yang kita adopsi di Indonesia," ujar Direktur Eksekutif KPBB, Ahmad Safrudin kepada Sariagri, Rabu (15/9).

Safrudin menyampaikan apabila konsumen dialihkan menggunakan BBM yang berkualitas seperti Pertamax Turbo dan Pertamina Dex, sebenarnya harga bisa terjangkau jika pemerintah transparan membuat restrukturisasi harga.

"Kita contek aja malaysia, bensin RON 95 sulfur konten maksimal 50 ppm nah itu kurang lebih setara dengan Pertamax turbo, (Harga Pokok Penjualan) HPP-nya hanya Rp9.866 per liter. Kalaupun ini dikenakan PPN 11 persen, ditambah pajak BBM 5 persen, ditambah keuntungan Pertamina 9 persen, harganya nggak lebih dari Rp12.000 per liter. Dan itu masih terjangkau oleh masyarakat Indonesia dengan catatan kualitasnya sesuai dengan standar kendaraan Euro 4," terangnya.

Konsumen Bakal Beralih ke Pertamax

Isu soal penghapusan Pertalite dan Pertamax pun menuai ragam tanggapan dari sejumlah warga. Seperti Eki, pekerja kantoran yang mengatakan ketika Pertalite di hapus, ia akan beralih ke Pertamax karena alasan murah.

"Ya kalau (Pertalite) dihapus mau gimana lagi, ya isi Pertamax itu saja yang murah," ujarnya kepada Sariagri melalui pesan singkat, Kamis (15/9).

Senada dengan hal tersebut, Deda, seorang wiraswasta mengatakan jika BBM jenis Pertalite dan Pertamax dihapuskan, maka ia akan menggunakan ke Pertamax.

"Harusnya sih pakai Pertamax, cuma karena mahal jadinya isi Pertalite deh. Kalau dihapus Pertalite ya balik lagi ke Pertamax," jelasnya.

Penyesuaian Pendapatan Pasca Kenaikan BBM

Pemerintah resmi menetapkan kenaikan harga BBM bersubsidi dan non subsidi. Harga Pertalite yang semula Rp7.650 per liter menjadi Rp10.000 per liter. Sementara itu, untuk Solar naik dari Rp5.150 per liter menjadi Rp6.800 per liter.

Kenaikan harga BBM ini pun ditanggapi oleh sejumlah elemen masyarakat. Mayoritas warga meminta agar pendapatan gaji dinaikkan pasca harga BBM naik.

"Yaa disesuaikan ajaa sama rata-rata gaji karyawan, karena buat gua yang mobilitasnya lumayan jauh lumayan kerasa kenaikan harga bbm. Gaji gak naik tapi harga-harga mulai naik, enggak imbang," ujar Eki.

Sementara itu, Deda berpendapat kenaikan harga BBM seharusnya diimbangi dengan besaran pendapatan gaji karyawan.

"Seharusnya harga bbm diimbangi dengan besaran pendapatan. naikin UMR pekerja dan jangan sampai harga barang-barang naik," terangnya.

Baca Juga: Ini yang Dilakukan Masyarakat Jika BBM Pertalite Benar-benar Dihapus
Konsumsi BBM Berkualitas Bikin Jarak Tempuh Kendaraan Meningkat 20 Persen

Selanjutnya, Febba meminta agar kenaikan harga BBM tidak terlalu mahal, tetapi diseimbangkan dengan pendapatan yang ada saat ini.

Bukan nya kita ga mau nurunin standar hidup ya. Yang pasti sih Mau nya (BBM) turun. Kalau misalnya ga turun ya kalo bisa dari perusahaan tempat bekerja menyesuaikan gaji. Soal nya kalau bahan bakar naik semua bahan pokok pasti ikutan naik juga," pungkasnya.

Video Terkait