Rusia Umumkan Wajib Militer, Harga Minyak Bergerak Lebih Tinggi

Ilustrasi - Ladang minyak BP Eastern Trough Area Project (ETAP) di Laut Utara, sekitar 100 mill dari Aberdeen Skotlandia. (Antara/Reuters/Andy Buchanan/am).

Editor: Yoyok - Jumat, 23 September 2022 | 09:00 WIB

Sariagri - Harga minyak menguat hampir 1 persen pada penutupan perdagangan, Kamis (22/9) atau Jumat (23/9) pagi WIB, memangkas kenaikan sebelumnya karena pasar fokus pada kekhawatiran pasokan minyak Rusia. Kenaikan juga dipicu rebound permintaan China dan Bank of England menaikkan suku bunga di bawah ekspektasi.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup naik 63 sen atau 0,7 persen, menjadi 90,46 dolar AS  per barel, setelah melambung lebih dari 2 dolar AS di awal sesi.

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), meningkat 55 sen atau 0,7 persen menjadi 83,49 dolar AS per barel, setelah meroket lebih dari 3 dolar AS di awal sesi.

Rusia mengumumkan wajib militer terbesar sejak Perang Dunia Kedua, meningkatkan kekhawatiran eskalasi perang di Ukraina lebih lanjut dapat memukul pasokan.

"Retorika permusuhan (Presiden Rusia Vladimir) Putin adalah apa yang menopang pasar ini," kata John Kilduff, mitra di Again Capital LLC, New York.

Kendala pasokan dari Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ) menambah dukungan lebih lanjut, kata para analis.

"Ekspor minyak mentah OPEC mendatar dari kenaikan kuat pada awal bulan ini," kata Giovanni Staunovo, analis UBS.

Uni Eropa mempertimbangkan pembatasan harga minyak, pembatasan yang lebih ketat pada ekspor teknologi tinggi ke Rusia dan lebih banyak sanksi terhadap individu, kata para diplomat, menanggapi apa yang dikutuk Barat sebagai eskalasi perang Moskow di Ukraina.

The European Securities and Markets Authority (ESMA) juga mempertimbangkan penghentian sementara derivatif energi karena harga melesat menyusul invasi Rusia ke Ukraina pada Februari.

Parameter mekanisme semacam itu harus ditetapkan di tingkat UE untuk diterapkan ke semua platform yang memperdagangkan turunan energi, kata ESMA .

Permintaan minyak mentah di China, importir minyak terbesar dunia, bangkit kembali, setelah terpukul oleh pembatasan ketat Covid-19.

Bank of England menaikkan suku bunga utamanya sebesar 50 basis poin menjadi 2,25 persen, dan mengatakan akan terus "merespons dengan kuat, jika perlu" terhadap inflasi.

Kenaikan suku bunga itu "kurang dari yang diperhitungkan pasar dan menentang beberapa ekspektasi bahwa pembuat kebijakan Inggris mungkin dipaksa mengambil pergerakan yang lebih besar," kata ING.

Bank sentral Turki secara tak terduga memangkas suku bunga kebijakannya sebesar 100 basis poin menjadi 12 persen, ketika sebagian besar bank sentral di seluruh dunia bergerak ke arah yang berlawanan.

Baca Juga: Rusia Umumkan Wajib Militer, Harga Minyak Bergerak Lebih Tinggi
Putin Umumkan Mobilisasi Militer Parsial, Siap-siap Harga Minyak Melonjak

Menyusul keputusan Federal Reserve yang menaikkan suku bunga 75 bps, Rabu, langkah serupa juga dilakukan Swiss National Bank, Norges Bank dan Bank Indonesia, dan South African Reserve Bank.

Kenaikan suku bunga untuk meredam inflasi membebani ekuitas, yang sering bergerak seiring dengan harga minyak. Kenaikan suku bunga dapat mengekang aktivitas ekonomi dan permintaan bahan bakar.

"Itu menunjukkan betapa sinkronnya siklus pengetatan saat ini," kata Deutsche Bank.

Video Terkait