Rusak Pencemaran Udara, Sudah Saatnya BBM Pertalite Tidak Lagi Digunakan

Ilustrasi SPBU. (Antara)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Tatang Adhiwidharta - Sabtu, 24 September 2022 | 15:00 WIB

Sariagri - Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbel (KPBB) Ahmad Safrudin mengatakan bahwa pencemaran udara Jakarta sudah memprihatikan dan melebihi ambang mutu yang ditetapkan pemerintah. Salah satunya disebabkan oleh penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tidak memenuhi standard kendaraan bermotor.

Dia menjelaskan, sejak 2007 Indonesia sudah mengadopsi standar Euro 2 untuk kendaraan bermotor.  Kemudian Euro 3 untuk sepeda motor di 2013 dan Euro 4 untuk mobil bensin (2018) dan mobil diesel (2022). Menurutnya, kendaraan bermotor Euro 2 ke atas tidak bisa diisi Bensin dengan RON di bawah 91, dan Solar dengan Cetane Number di bawah 51 karena akan menyebabkan knocking yang berdampak BBM boros dan emisi tinggi atau pencemaran udara.

"Pencemaran udara Jakarta tidak sehat dalam 10 tahun ini yaitu dengan rata-rata tahunan PM10 59 microgram/m3 sementara standard pemerintah 40 microgram/m3, PM2.5 mencapai 46,1 microgram/m3 dengan standard 15 microgram/m3," kata Safrudin kepada Sariagri, Jumat (24/9).

Puput menyarankan beberapa hal untuk mengatasi pencemaran udara, salah satunya mengusulkan untuk menghapus BBM kotor yang dijual saat ini, yakni Pertalite 90, Solar 48, dan Dexlite 51.

Baca Juga: Rusak Pencemaran Udara, Sudah Saatnya BBM Pertalite Tidak Lagi Digunakan
Bantah Turunkan Kualitas, Pertamina Pastikan Pertalite Tetap RON 90

"BBM kotor yang tersisa Pertalite (90), Bio-Solar (48) dan Dexlite (51) harus dihapuskan sejalan dengan keharusan Presiden Jokowi untuk merestrukturisasi harga BBM sehingga HPP (Harga Pokok Penjualan) BBM tidak seenaknya ditentukan dan dimark up oleh Oil Trader," jelasnya.

"Karena berkaca pada Malaysia dan Australia di sana HPP BBM sekualitas Pertamax Turbo hanya Rp 9.000 per liter," tambahnya.