Harga Minyak Mentah Anjlok 2 Dolar, Efek Penguatan Dolar AS

Ilustrasi - Kilang minyak bumi. (Piqsels)

Editor: Yoyok - Selasa, 27 September 2022 | 09:00 WIB

Sariagri - Harga minyak anjlok 2 dolar AS per barel, Senin (26/9) atau Selasa (27/9) pagi WIB, menetap di posisi terendah sembilan bulan dalam perdagangan yang berombak, tertekan penguatan dolar ketika pelaku pasar menunggu rincian sanksi baru terhadap Rusia.

Minyak mentah berjangka Brent untuk kontrak pengiriman November, patokan internasional, ditutup merosot 2,09 dolar AS atau 2,4 persen menjadi 84,06 dolar AS per barel, jatuh di bawah level yang dicapai pada 14 Januari.

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman November, melorot 2,06 dolar AS atau 2,3 persen menjadi 76,71 dolar AS per barel, terendah sejak 6 Januari.

Kedua kontrak melesat di awal sesi setelah jatuh sekitar 5 persen pada penutupan Jumat.

Indeks Dolar (Indeks DXY) mencapai level tertinggi dua dekade, menekan permintaan minyak yang dihargai dalam mata uang AS itu. Dampak dolar yang kuat pada harga minyak paling menonjol dalam lebih dari setahun, data Refinitiv Eikon menunjukkan.

"Sulit bagi siapa pun untuk memperkirakan minyak akan pulih setelah  greenback  semahal ini," kata Bob Yawger, Direktur Mizuho.

Gangguan dari perang Rusia-Ukraina juga menghantam pasar minyak, dengan sanksi Uni Eropa yang melarang minyak mentah Rusia akan dimulai pada Desember bersama dengan rencana negara-negara G7 untuk membatasi harga minyak Rusia yang tampaknya akan memperketat pasokan.

Kenaikan suku bunga oleh bank sentral di banyak negara konsumen minyak menimbulkan kekhawatiran perlambatan ekonomi yang dapat menekan permintaan minyak.

"Dengan semakin banyak bank sentral dipaksa untuk mengambil langkah-langkah luar biasa tidak peduli dampaknya terhadap ekonomi, permintaan akan terpukul yang dapat membantu menyeimbangkan kembali pasar minyak," kata Craig Erlam, analis Oanda di London.

Perhatian beralih ke apa yang akan dilakukan Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ) dan sekutu yang dipimpin Rusia, bersama-sama dikenal sebagai OPEC Plus, ketika mereka bertemu pada 5 Oktober, setelah sepakat pada pertemuan sebelumnya untuk memangkas produksi secara moderat.

Namun, OPEC Plus berproduksi jauh di bawah output yang ditargetkan, yang berarti pemotongan lebih lanjut mungkin tidak berdampak banyak pada pasokan.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Anjlok 2 Dolar, Efek Penguatan Dolar AS
Putin Umumkan Mobilisasi Militer Parsial, Siap-siap Harga Minyak Melonjak

"Kemungkinan akan muncul cukup tinggi untuk penyesuaian ke bawah dalam produksi oleh organisasi OPEC Plus," kata Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch and Associates di Galena, Illinois.

Data pekan lalu menunjukkan OPEC Plus meleset dari targetnya sebesar 3,58 juta barel per hari pada Agustus, penurunan yang lebih besar ketimbang Juli.

Video Terkait