Badai Ian Ganggu Pasokan di Teluk Meksiko, Harga Minyak Bergerak Naik

Ilustrasi - Ladang minyak BP Eastern Trough Area Project (ETAP) di Laut Utara, sekitar 100 mill dari Aberdeen Skotlandia. (Antara/Reuters/Andy Buchanan/am).

Editor: Yoyok - Rabu, 28 September 2022 | 09:00 WIB

Sariagri - Harga minyak mentah melonjak sekitar 2 dolar AS, Selasa (27/9) atau Rabu (28/9) pagi WIB, bangkit dari level terendah sembilan bulan sehari sebelumnya, didukung pembatasan pasokan di Teluk Meksiko menjelang Badai Ian dan karena dolar AS tergelincir dari tingkat terkuatnya dalam dua dekade.

Harga mendapatkan dukungan dari ekspektasi analis untuk kemungkinan pemotongan pasokan dari Organisasi Negara Eksportir Minyak dan sekutunya (OPEC +), yang akan bertemu guna menetapkan kebijakan pada 5 Oktober.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melesat 2,21 dolar AS atau 2,6 persen menjadi 86,27 dolar AS per barel. Pada sesi Senin, harga jatuh ke posisi 83,65 dolar AS, level terendah sejak Januari.

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), di posisi 78,50 dolar AS per barel, melejit 1,79 dolar AS atau 2 persen.

Produsen minyak lepas pantai Amerika mengatakan mereka mengawasi jalur Badai Ian saat badai kuat itu menutup sekitar 11 persen dari produksi minyak di Teluk Meksiko AS ketika meluncur menuju Florida.

Penutupan itu mungkin hanya memberikan penangguhan hukuman sementara bagi harga minyak, kata Bob Yawger, Direktur Mizuho di New York.

"Minyak akan segera kembali, saya membayangkan," kata Yawger, menambahkan bahwa ada kemungkinan kecil badai akan mengubah jalur dan memaksa lebih banyak penutupan.

Setelah menghentikan beberapa produksi minyak mentah lepas pantai, BP Plc mengatakan badai itu tidak menimbulkan ancaman bagi aset Teluk Meksiko dan perusahaan memindahkan pekerja ke platform minyak.

Harga minyak mentah melonjak setelah Rusia menginvasi Ukraina pada Februari, dengan Brent pada periode Maret mendekati level tertinggi sepanjang masa di 147 dolar AS. Baru-baru ini, kekhawatiran tentang resesi, suku bunga tinggi dan penguatan dolar membebani harga minyak.

"Minyak mentah saat ini berada di bawah pengaruh kekuatan finansial," kata Tamas Varga, analis PVM.

Dolar AS, yang turun dari level tertinggi 20 tahun, juga membantu mendukung minyak. Dolar yang kuat membuat minyak mentah lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Kejatuhan harga minyak mentah dalam beberapa bulan terakhir meningkatkan spekulasi bahwa OPEC Plus bakal melakukan intervensi. Menteri Energi Irak, Senin, mengatakan kelompok itu terus mencermati harga dan tidak menginginkan kenaikan atau penurunan tajam.

Baca Juga: Badai Ian Ganggu Pasokan di Teluk Meksiko, Harga Minyak Bergerak Naik
Harga Minyak Mentah Anjlok 2 Dolar, Efek Penguatan Dolar AS

"Hanya pengurangan produksi oleh OPEC Plus yang dapat mematahkan momentum negatif dalam jangka pendek," kata Giovanni Staunovo dan Wayne Gordon dari bank Swiss UBS.

Pasar menunggu laporan inventaris AS terbaru, yang diperkirakan analis menunjukkan peningkatan 300.000 barel dalam stok minyak mentah.

Video Terkait