Jika Tidak Ada Promo, Layanan Ojol Siap-siap Ditinggalkan Pelanggan

Kolaborasi Gojek dan Tokopedia. (Foto: Antara)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Reza P - Kamis, 29 September 2022 | 09:00 WIB

Sariagri - Pelanggan layanan transportasi daring ojek online (ojol) mengaku keberatan dengan adanya kenaikan tarif ojol. Adapun kebijakan tersebut menaikkan batas bawah minimal sebesar 8 persen dari tarif biasanya.

Husna (30), seorang pegawai swasta mengaku masih menggunakan layanan ojol baik untuk mobilitas bekerja maupun memesan makanan. Namun dengan adanya kenaikan tarif membuat pengeluarannya semakin membengkak.

"Masih pakai ojek online sih, karena simpel. Terus masih banyak diskon promo. Tapi sekarang tarif ojol naik, makanya sekarang lebih baik boncengan naik motor, karena kalau ojol terus jadi boros," ujar Husna kepada Sariagri (29/9).

Hal senada juga disampaikan seorang pegawai swasta lainnya, Sony (29). Ia mengatakan hadirnya layanan ojol memang memudahkan untuk menjalankan berbagai sejumlah aktivitas. Akan tetapi, ia menyebutkan kenaikan tarif ojol juga berimbas pada pengeluarannya.

"Pilih ojek online karena mempermudah ditambah lagi promonya banyak sih sebenernya kalo buat makan sama perjalanan. Saat ini naiknya tarif ojek online terasa berimbas lantaran sekarang yang biasanya naik ojek online bisa Rp20 ribu bisa jadi Rp25 sampai Rp30 ribu." ujar Sony.

Baca Juga: Jika Tidak Ada Promo, Layanan Ojol Siap-siap Ditinggalkan Pelanggan
Perbandingan Harga BBM di Setiap SPBU Indonesia, Mana yang Paling Murah?

Pelanggan Bakal Tinggalkan Layanan Ojol

Husna juga mengatakan, adanya layanan ojol memang mempermudah dirinya untuk melakukan aktivitas. Kendati demikian, apabila promo yang diberikan sudah tidak ada maka ia mengaku akan meninggalkan layanan ojol.

"Kalau promo diskon dan gratis ongkir selesai, masak sendiri agar lebih hemat.

Sementara itu, Sony mengungkapkan apabila promo yang diberikan ojol sudah selesai maka dirinya juga akan berhentu menggunakan layanan ojol.

"Mending nabung buat kredit motor, secara hitungan ekonomi jauh lebih irit," pungkasnya.

Video Terkait