BBM Kian Mahal, Waktunya Indonesia Beralih ke Energi Terbarukan

Ilustrasi BBM. (Foto: Pixabay)

Editor: Dera - Kamis, 29 September 2022 | 10:30 WIB

Sariagri - Harga bahan bakar minyak (BBM) yang terus melonjak tentunya memberatkan masyarakat. Namun bak buah simalakama, masyarakat tetap membutuhkan BBM untuk transportasi sehari-sehari.

Padahal, sebenarnya Indonesia bisa saja beralih ke energi terbarukan yang mungkin lebih ekonomis dan ramah lingkungan. Apalagi, energi terbarukan tersebut sebenarnya sudah tersedia di Indonesia.

Namun hal tersebut memang bukan hal mudah lantaran butuh perubahan besar-besaran.  Salah satunya adalah dengan penggunaan biodiesel sebagai pengganti bahan bakar.

Biodiesel adalah bahan bakar terbarukan yang dapat dibuat dari minyak nabati, lemak hewani, atau minyak goreng bekas yang biasanya ada di restoran dan rumah tangga. 

Percaya atau tidak, biodiesel dapat digunakan pada kendaraan yang sudah ada di jalan saat ini. Hal tersebut dikarenakan susunan fisiknya cukup mirip dengan solar, tetapi pembakarannya jauh lebih bersih. 

Energi Terbarukan

Mengutip keterangan World Economic Forum, penggunaan biodiesel jauh lebih aman. Tidak hanya lebih mudah dibersihkan jika tumpah di suatu lingkungan, tetapi memiliki titik nyala lebih dari 130 derajat Celsius dibandingkan bahan bakar biasa. 

Biodiesel murni, yang dikenal sebagai B100, mengurangi emisi karbon dioksida lebih dari 75 persen dibandingkan dengan bahan bakar biasa.

Selain biodiesel, listrik juga bisa dimanfaatkan sebagai penggerak alat tranportasi. Kendaraan listrik sudah ada sejak lama tetapi sejauh ini masih berjuang untuk memasuki pasar massal. 

Banyak kendaraan hibrida sekarang menggunakan listrik untuk mengurangi konsumsi bahan bakar dan dengan demikian mengurangi biaya bahan bakar. Di Indonesia, terdapat mobil dan motor listrik yang saat ini gencar dipromosikan. 

Selain itu juga bisa menggunakan etanol. Etanol adalah alkohol terbarukan yang terbuat dari jenis alkohol yang sama yang biasanya terdapat pada minuman beralkohol. 

Baca Juga: BBM Kian Mahal, Waktunya Indonesia Beralih ke Energi Terbarukan
Beredar Isu Pertalite Lebih Boros, DPR Desak Pemerintah Cek Kualitas BBM

Produksi dan penggunaan etanol dapat mengurangi emisi gas rumah kaca antara 52 dan 86 persen. Selain itu, infrastruktur untuk menangani etanol sudah ada, karena merupakan peralatan yang digunakan untuk menyimpan dan mengeluarkan bensin, hanya dengan modifikasi pada beberapa bahan. 

Namun kekurangan etanol yaitu memiliki energi lebih sedikit daripada bensin. Artinya, masih membutuhkan lebih banyak energi untuk mendapatkan hasil yang sama. Oleh karena itu, transisi menuju energi terbarukan harus dimulai dari sekarang, agar Indonesia tak lagi bergantung sepenuhnya pada bensin atau BBM yang harganya terus meningkat. 

Video Terkait