Krisis Energi, Perusahaan Eropa Ramai-ramai Berinvestasi ke Cina

Ilustrasi pipa gas. (Foto: Pixabay)

Editor: Dera - Kamis, 29 September 2022 | 18:30 WIB

Sariagri - Krisis energi di Eropa diperparah oleh ledakan pipa gas Nord Stream. Hal tersebut mendorong harga gas yang semakin mencekik dan membuat banyak perusahaan Eropa menghadapi risiko yang meningkat terhadap biaya produksi.

Mengutip Global Times, perusahaan-perusahaan di Eropa kini menuju Cina untuk mendirikan pabrik baru dan mengejar peluang investasi. Terutama perusahaan-perusahaan pembuatan mobil dan bahan kimia, yang membutuhkan pasokan listrik yang stabil.

Dari Januari hingga Agustus 2022, penggunaan modal asing di Cina mencapai 892,74 miliar yuan. Jumlah tersebut naik 16,4 persen year-on-year, menurut statistik dari Kementerian Perdagangan Cina.

Sementara itu investasi Uni Eropa di Cina naik 123,7 persen, mencerminkan kepercayaan perusahaan-perusahaan Eropa di pasar Cina.

Sebagai contoh, perusahaan kimia Jerman BASF mengumumkan bahwa pabrik pertamanya di Zhanjiang, Cina Selatan, mulai beroperasi pada awal September 2022. Menandai proyek investasi luar negeri terbesar perusahaan tersebut hingga saat ini.

Sebuah survei terbaru terhadap lebih dari 100 pembuat mobil dan pemasok oleh Asosiasi Industri Otomotif Jerman menemukan bahwa 22 persen perusahaan ingin memindahkan investasi ke luar negeri. Hanya 3 persen dari mereka yang berniat meningkatkan investasi di Jerman.

Menurut Wakil Direktur Institut Riset Pasar Internasional di Akademi Perdagangan Internasional dan Kerjasama Ekonomi Cina, Bai Ming, langkah-langkah yang dilakukan oleh beberapa perusahaan Eropa ini mungkin bukan semata-mata karena krisis energi di Eropa. 

Baca Juga: Krisis Energi, Perusahaan Eropa Ramai-ramai Berinvestasi ke Cina
Tarik Investor, Penemuan 'Harta Karun' Migas di Aceh Bisa Dongkrak Ekonomi

Pergeseran rantai pasokan seringkali membutuhkan waktu bertahun-tahun. Tren menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan Eropa merangkul pasar Cina adalah bagian dari upaya menstabilkan rantai pasokan mereka. 

Walaupun Cina adalah importir energi terbesar di dunia, namun pasokan energi di Cina pada dasarnya terjamin. Kerja sama antara perusahaan Cina dan Eropa dapat meredakan krisis energi dan memperkuat keamanan rantai pasokan.

 

Video Terkait