Gagal Total, Konversi BBM ke BBG Bak 'Mati Suri'

Ilustrasi pengisian bahan bakar gas (BBG) . (esdm.go.id)

Editor: Dera - Kamis, 29 September 2022 | 21:30 WIB

Sariagri - Program konversi bahan bakar minyak (BBM) ke bahan bakar gas (BBG) sempat dilakukan pada masa pemerintah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di tahun 2012. 

Kala itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik menyatakan bahwa konversi BBM ke BBG ''wajib" dilakukan secara bertahap.

"Konversi BBM ke gas itu sudah menjadi policy. Niat pemerintah sangat serius karena BBM semakin mahal, produksi minyak nasional semakin berkurang, sementara gas kita melimpah," ungkap Jero Wacik di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta (20/02/2012).

Program ini memiliki tiga tujuan utama, yaitu mengendalikan subsidi BBM sehingga mengurangi beban fiskal, mengurangi beban biaya bahan bakar pemilik kendaraan, serta mengendalikan lingkungan dari polusi udara.

Terobosan tersebut memang mutlak harus dilakukan agar masyarakat Indonesia terhindar dari "paceklik" BBM, sehingga APBN tetap sehat dan perekonomian negara pun bisa selamat. Namun sayang, program konversi BBM ke BBG bak "mati suri'' dan hilang tanpa jejak. 

Konversi BBM ke BBG Gagal Total?

Pengamat Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhy sangat menyayangkan terhentinya program konversi BBM ke BBG. 

"Sebetulnya itu ide yang cukup bagus, apalagi sumber gas kita juga sangat melimpah, itu diekspor tapi sayang tidak digunakan di dalam negeri," ungkap Fahmy saat dihubungi Sariagri, Kamis (29/9/2022). 

Menurutnya, penyebab utama gagalnya program tersebut adalah infrastruktur yang belum memadai.

"BBG itu kan harus mengalirkan gas ke beberapa sumber ke SPBU, namun itu tidak dilakukan karena butuh investasi dan APBN kita tidak mencukupi," pungkasnya. 

Lebih lanjut dirinya menambahkan, bahwasannya pemerintah perlu merencanakan pembangunan infrastruktur gas agar program konversi BBM ke BBG bisa berjalan. 

Baca Juga: Gagal Total, Konversi BBM ke BBG Bak 'Mati Suri'
Pemerintah Pastikan Harga Pertalite Hingga Gas Elpiji Tidak Akan Naik

"Kalau Presiden Jokowi bisa bangun jalan tol, harusnya pembangunan pipa itu mudah. Biayanya bisa dari APBN atau sumber lain, tapi itu tidak dilakukan," keluh Fahmi. 

"Program ini terobosan bagus, kalau jaringan gas tadi sudah memadai dan mencukupi, maka itu bisa menggantikan BBM, bisa menggantikan kompor LPG dan itu jatuhnya lebih murah. Penggunaan gas secara optimal pun nantinya akan menghasilkan energi bersih," tutupnya.

Video Terkait