Kritik AS, Jerman Mulai Kesal Harga Gas Makin Mahal

Stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Berlin, Jerman. (Xinhua/Ren Pengfei)

Editor: Dera - Kamis, 6 Oktober 2022 | 20:45 WIB

Sariagri - Menteri Urusan Ekonomi dan Aksi Iklim Jerman, Robert Habeck mengeluhkan tingginya harga gas dari negara-negara pemasok sekaligus negara sahabat, salah satunya Amerika Serikat (AS). 

"Beberapa negara, bahkan negara sahabat, dalam beberapa kasus mengenakan harga yang sangat tinggi. Tentu saja, ini membawa masalah yang harus kami bicarakan," kata Habeck kepada surat kabar Neue Osnabruecker Zeitung (NOZ). 

Menurutnya, harga gas di Eropa dua kali lebih tinggi dibandingkan periode sebelum pecahnya konflik Rusia-Ukraina.

"Amerika Serikat berpaling kepada kami ketika harga minyak melonjak, dan (keran) cadangan minyak nasional juga dibuka di Eropa. Saya pikir solidaritas seperti itu juga bagus untuk membatasi harga gas," kata Habeck, seperti dilansir Xinhua.

Lebih lanjut pihaknya mengatakan, pasokan gas dari Rusia ke Jerman melalui pipa Nord Stream juga tidak mengalir sejak 1 sejak September. Hal tersebut lantaran adanya kebocoran besar setelah ledakan terdeteksi oleh layanan gempa Norwegia. Akibat peristiwa itu, Rusia dan AS pun saling menuduh melakukan sabotase.

Meski menjadi negara ekonomi terbesar di Eropa, Jerman pun sangat bergantung pada gas dari negara lain. Tahun lalu, 95 persen gas alam yang dikonsumsi negara tersebut berasal dari impor, menurut Kantor Statistik Federal (Destatis).

Baca Juga: Kritik AS, Jerman Mulai Kesal Harga Gas Makin Mahal
Sinyal Kuat Pertalite, Solar, Elpiji Serta Tarif Listrik Bakal Segera Naik

Habeck pun meminta Uni Eropa (UE) untuk menggabungkan kekuatan pasarnya dan mengatur cara pembelian secara cerdas dan tersinkronisasi. Sementara Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan dirinya lebih suka membahas pembatasan harga pada gas.

"Harga gas yang tinggi mendorong kenaikan harga listrik. Kita harus membatasi dampak inflasi gas pada listrik, di mana pun di Eropa," pungkasnya.