Kala Energi Angin dan Matahari Jadi Harapan Baru Uni Eropa

Ilustrasi energi terbarukan. (pixabay)

Editor: Dera - Kamis, 20 Oktober 2022 | 20:00 WIB

Sariagri - Energi angin dan matahari mencapai rekor 24 persen untuk kebutuhan listrik Uni Eropa sejak Rusia melancarkan perangnya terhadap Ukraina. Hal tersebut merupakan dorongan yang juga membantu Uni Eropa memerangi inflasi yang melonjak.

Mengutip CNN, pertumbuhan kapasitas energi terbarukan membuat Uni Eropa berhemat sebanyak 99 miliar Euro dalam menghindari impor gas. Jumlah tersebut 11 miliar Euro lebih banyak bila dibandingkan dengan periode yang sama dari tahun lalu, menurut sebuah laporan. 

Dorongan penggunaan energi terbarukan datang ketika Uni Eropa mencoba untuk melepaskan diri dari gas Rusia. Selain itu, Rusia terus mengurangi, bahkan benar-benar memotong pasokan energi negara-negara Eropa. 

Perang memaksa Uni Eropa harus mengurangi ketergantungannya pada gas Rusia, di mana pada 2020 menyumbang 41 persen dari impor bahan bakar fosil Uni Eropa. 

Polandia memiliki persentase peningkatan terbesar yaitu 48,5 persen untuk penggunaan energi terbarukan. Sementara pembangkit listrik dengan energi terbarukan milik Spanyol menghindari biaya gas impor sebesar 1,7 miliar Euro. 

Namun, lembaga think tank memperingatkan bahwa masih ada jalan panjang untuk mencapai potensi energi terbarukan di Uni Eropa. Bahan bakar fosil masih menyumbang sekitar 20 persen dari listrik Uni Eropa pada periode yang sama, dengan biaya sekitar 82 miliar Euro. 

Baca Juga: Kala Energi Angin dan Matahari Jadi Harapan Baru Uni Eropa
Diam-diam, Petronas Mulai Lirik Ladang Gas Raksasa Indonesia

“Angin dan matahari sudah membantu warga Eropa. Tapi potensi masa depan bahkan lebih besar,” kata Chris Rosslowe, analis senior. 

Meskipun demikian, harga energi Eropa masih tinggi. Pembatasan gas Rusia ke Eropa telah menghasilkan goncangan inflasi terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II, mengalahkan krisis minyak pada 1970-an. Pada September 2022, biaya energi naik 40,8 persen dibandingkan tahun lalu, menyumbang 36 persen dari keseluruhan angka inflasi Uni Eropa.