Mengenal 'Matahari Malam' yang Bikin Tanaman Hidroponik Tumbuh Subur

Ilustrasi tanaman hidroponik. (pixabay)

Editor: Dera - Rabu, 16 November 2022 | 16:15 WIB

Sariagri - Teknik hidroponik atau menanam dengan air (tanpa tanah) memang tengah digandrungi oleh para petani pemula, pasalnya sistem hidroponik dianggap lebih efisien karena tidak memerlukan lahan yang luas untuk menanam. 

Namun dalam menjalankannya terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti sistem pengairan dan penerangan yang harus stabil. Melihat kondisi tersebut, Perusahaan Listrik Negara (PLN) Persero berinovasi dengan memanfaatkan sinar lampu ultraviolet (UV) untuk meningkatkan produktivitas tanaman hidroponik.

Adapun lampu yang digunakan merupakan lampu khusus yang biasa disebut grow led, yang memancarkan spektrum cahaya ultraviolet. Jarak antarlampu pun harus menyesuaikan, yakni idealnya satu lampu untuk 2 meter persegi dengan tinggi 150 cm dari tanaman.

Sinar lampu UV sebagai pengganti cahaya matahari di malam hari membuat pertumbuhan tanaman lebih optimal. Sebab, tanaman akan tetap berfotosintesis dengan bantuan sinar lampu UV, meskipun di malam hari. Selain itu, nutrisi yang dibutuhkan tanaman juga terus terjaga lantaran mendapatkan cukup sinar selama 24 jam penuh.

Melansir laman resmi indonesia.go.id, dengan sistem pengairan yang stabil dan penerangan dengan lampu UV, sayur organik ini dapat dipanen hanya dalam waktu 30-35 hari. Itu lebih cepat dari waktu normalnya, yakni 45 hari. Berat tanamannya pun bisa mencapai 200-250 gram untuk setiap batang tanamannya, di mana pada umumnya hanya mencapai 150 gram per batang tanamannya. 

Sementara jika melihat dari segi kualitas, tanaman yang menggunakan sistem ini memiliki daun yang lebih cerah, akar yang putih cerah, di mana hal ini merupakan indikator bahwa tanaman tersebut sehat.

“Dari segi rasa juga tidak perlu khawatir, karena tidak pahit, ini sekaligus aman untuk langsung dikonsumsi,” kata Asrori, sang motor program hidroponik sinar lampu UV di kawasan Wisata Edukasi Tani Terpadu (WETT) Betet, yang berlokasi di Desa Betet, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. 

Inovasi yang menjanjikan

Sistem hidroponik dengan sinar lampu UV memberikan prospek yang menjanjikan. Usaha skala kecil rumah tangga dengan 40 lubang, memerlukan modal untuk starter kit hidroponik dengan sinar lampu UV sekitar Rp1,8 juta dengan biaya operasional setiap kali tanam sebesar Rp100 ribu.

Adapun hasil panen untuk setiap lubang berkisar di angka 200-250 gram. Artinya, untuk 40 lubang, pelaku hidroponik model itu dapat memperoleh hasil kurang lebih 10 kilogram (kg) dalam satu kali masa panen dengan harga per kilogramnya di pasaran mencapai Rp25 ribu.

Dalam 1 tahun, dengan memanfaatkan sinar lampu UV, pelaku hidroponik dapat melakukan 9-12 kali masa tanam, berbanding lurus dengan frekuensi masa panen. Hal itu berbeda dengan sistem hidroponik biasa yang masa tanamnya berkisar antara 6-9 kali dengan sistem rotari.

Baca Juga: Mengenal 'Matahari Malam' yang Bikin Tanaman Hidroponik Tumbuh Subur
Kala Energi Angin dan Matahari Jadi Harapan Baru Uni Eropa

Sementara itu, untuk skala hobi dan industri, sistem hidroponik dengan sinar lampu UV ini juga tidak kalah menjanjikan. Sebut saja untuk skala hobi 200 lubang, investasi yang dikeluarkan untuk starter kit Rp7,5 juta dengan biaya operasional setiap kali tanam Rp465 ribu.

Dari skala ini, pelaku hidroponik dapat menghasilkan 50 kg tanaman hidroponik dalam satu kali masa panen atau sekitar Rp1.250.000. Atau kalau skala industri, investasi yang diperlukan meliputi starter kit hidroponik NFT 2.000 lubang dengan sinar lampu UV dan juga green house berukuran 8x20 m.