Telan Investasi USD 6 Miliar, RI Bakal Punya PLTS Terbesar di Dunia?

Ilustrasi PLTS di KEK Karimun, Kepulauan Riau akan menjadi yang terbesar di dunia. (ESDM/indonesia.go.id)

Editor: Dera - Jumat, 25 November 2022 | 11:00 WIB

Sariagri - Indonesia terus menggenjot pertumbuhan ekonomi dengan mengembangkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), salah satunya KEK Karimun, Kepulauan Riau. 

Belum lama ini, KEK Karimun kedatangan investasi di sektor energi baru dan terbarukan, berupa megaproyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 3,5 gigawatt (GW). Investasi PLTS itu dilakukan Anantara Energy Holdings Pte Ltd dan Quantum Power Asia.

Kedua perusahaan tersebut telah menandatangani nota kesepahaman dengan Countrywide Hydrogen untuk mengkaji pembangunan PLTS di KEK Karimun, investasinya sendiri mencapai USD6 miliar.

Direktur Anantara Energy, Simon G Bell mengatakan, pihaknya menyepakati kerja sama dengan Countrywide Hydrogen untuk mendanai studi konsep yang akan mencakup studi kelayakan tekno komersial dalam menyiapkan fasilitas produksi hidrogen dan amonia hijau di Indonesia. Dia menjelaskan, fasilitas produksi hidrogen dan amonia hijau itu nantinya akan ikut memastikan pasokan energi bersih di pasar domestik.

“Setelah memperoleh hasil positif, Anantara akan membangun, mendanai, dan mengoperasikan 100 MWp PLTS yang akan menyediakan kebutuhan energi bersih secara domestik, dan menyediakan investasi yang lebih besar untuk pembangunan fasilitas produksi yang terus meningkat di KEK Karimun,” katanya, seperti dilansir indonesia.go.id. 

Managing Director Countrywide Hydrogen Geoffrey Drucker mengatakan, studi konsep dan kelayakan di KEK Karimun menunjukkan potensi produksi hidrogen dapat mencapai 1.650 ton per tahun. Produksi itu akan mencakup investasi langsung mencapai USD50 miliar, serta investasi tidak langsung di bidang infrastruktur dan industri rantai pasok lainnya.

“Setelah hasil positif dari studi konsep dan studi kelayakan ini dicapai, maka diharapkan fasilitas produksi PLTS itu akan selesai dibangun pada 2024, dan memulai produksinya di awal 2025.”

Proyek itu juga memiliki tujuan untuk menyediakan energi bersih untuk memenuhi kebutuhan lokal, sebelum mengekspor listrik ke Singapura melalui 400 kV kabel bawah laut. 

Sebagai bagian dari inisiatif untuk mencapai netralitas karbon pada 2050, Pemerintah Singapura melalui Energy Market Authority (EMA) telah mengeluarkan Request for Proposals (RfP) untuk izin impor listrik, guna memasok energi bersih dari negara tetangga termasuk Indonesia.

Peluang itulah yang ingin ditangkap pelaku usaha dengan membangun PLTS di KEK Karimun. Dengan komitmen investasi sebesar USD6 miliar, PLTS ini akan menjadi PLTS terbesar di dunia yang akan dibangun di KEK Karimun, Kepulauan Riau.

Tak hanya itu saja, Investasi untuk fasilitas manufaktur itu juga akan menciptakan 500 peluang kerja berkualitas tinggi serta lebih dari 4.500 peluang kerja tidak langsung. Tentu rencana investasi energi baru dan terbarukan di KEK Karimun perlu disambut dengan gembira. Pasalnya, Indonesia kini gencar mengembangkan potensi energi baru dan terbarukan (EBT).

Apalagi, Pemerintah Indonesia telah menetapkan target bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025. Indonesia menargetkan memiliki kapasitas EBT sebanyak 10,6 GW pembangkit EBT baru pada 2025.

Dari total kapasitas itu, sebanyak 1,4 GW di antaranya merupakan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP), dan 3,1 GW berupa Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Sementara porsi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTM) 1,1 GW, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 3,9 GW, Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) 0,5 GW dan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBio) 0,6 GW.

Ini semua merupakan bagian dari Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2021-2030. Di RUPTL itu disebutkan porsi pembangkit EBT dalam Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) adalah 23 persen pada 2025, sementara realisasi yang hingga akhir 2020 baru mencapai sekitar 14 persen.

Baca Juga: Telan Investasi USD 6 Miliar, RI Bakal Punya PLTS Terbesar di Dunia?
Meski Hemat Energi, DPR Kritik Mahalnya Harga Kendaraan Listrik

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif telah mengungkapkan, target bauran energi Indonesia. "RUPTL PLN 2021-2030 saat ini merupakan RUPTL lebih hijau karena porsi penambahan pembangkit EBT sebesar 51,6 persen, lebih besar dibandingkan penambahan pembangkit fosil sebesar 48,4 persen," ujar Arifin, seperti dilansir indonesia.go.id

Pemerintah Indonesia, sebut Arifin, terus terlibat aktif dalam memenuhi Paris Agreement. Dalam hal ini, Indonesia berkomitmen di sektor energi untuk dapat menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Di mana Indonesia telah menetapkan target Nationally Determined Contributions/NDC pada 2030 sebesar 29 persen dengan kemampuan sendiri, dan 41 persen dengan dukungan Internasional.

Video Terkait