Harga Minyak Variatif, Imbas Rencana China Longgarkan Pembatasan Covid

Ilustrasi - Kilang minyak bumi. (Piqsels)

Editor: Yoyok - Rabu, 30 November 2022 | 07:00 WIB

Sariagri - Minyak berakhir variatif, Selasa (29/11) atau Rabu (30/11) pagi WIB, di tengah ekspektasi pelonggaran kontrol ketat Covid-19 China, tetapi kekhawatiran bahwa OPEC Plus akan mempertahankan produksinya tidak berubah pada pertemuan mendatang membatasi kenaikan.

Harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melemah 16 sen atau 0,2 persen menjadi 83,03 dolar AS per barel.

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melonjak 96 sen atau 1,2 persen menjadi 78,20 dolar AS per barel.

Pejabat kesehatan China mengatakan negara itu berencana untuk mempercepat vaksinasi Covid-19 bagi kalangan lansia, yang bertujuan untuk mengatasi hambatan utama dalam upaya melonggarkan pembatasan nol-Covid yang tidak populer.

"Prospek kembali normal, dalam ekonomi yang merupakan importir minyak terbesar dunia, sudah cukup untuk membuat harga minyak melonjak, rebound harga signifikan yang pertama dalam dua minggu terakhir," kata analis ActivTrades, Ricardo Evangelista.

Protes jalanan yang jarang terjadi di kota-kota di seluruh China selama akhir pekan lalu menargetkan kebijakan nol-Covid Presiden Xi Jinping dan merupakan pembangkangan publik terkuat selama karier politiknya.

Pelemahan dolar AS, yang cenderung diperdagangkan terbalik dengan minyak, juga membantu mendongkrak harga minyak mentah. Indeks Dolar (Indeks DXY) jatuh ke posisi 106,65 dari level tertinggi 20 tahun karena investor memperkirakan Federal Reserve mencapai puncak kenaikan suku bunga awal tahun depan dengan tekanan inflasi diperkirakan mereda.

"Rebound yang kuat itu dilanjutkan oleh melemahnya dolar AS dan kebutuhan untuk mengurangi hilangnya ketersediaan minyak mentah Rusia lewat sanksi yang dijadwalkan mulai pekan depan," kata Jim Ritterbusch, Presiden Ritterbusch and Associates.

Harga minyak terhambat oleh kekhawatiran bahwa Organisasi Negara Eksportir Minyak dan sekutunya termasuk Rusia, kelompok yang dikenal sebagai OPEC Plus, tidak akan menyesuaikan rencana output mereka pada pertemuan 4 Desember.

Lima narasumber mengatakan OPEC Plus kemungkinan akan mempertahankan kebijakan produksi minyak tidak berubah pada pertemuan Minggu, sementara dua narasumber mengatakan pengurangan output tambahan kemungkinan juga akan dipertimbangkan. Namun, tidak ada yang berpikir pemotongan lain sangat mungkin terjadi.

Pertemuan tersebut, yang direncanakan sebagai pertemuan tatap muka, dapat dilakukan sebagian atau seluruhnya secara virtual, kata sumber, yang menambah kekhawatiran bahwa pemotongan tidak akan terjadi dalam waktu dekat.

OPEC Plus mulai menurunkan target produksinya sebesar 2 juta barel per hari pada November, yang bertujuan untuk menopang harga minyak.

Pasar juga menilai dampak dari pembatasan harga minyak Rusia yang akan ditetapkan negara-negara Barat.

Diplomat dari negara-negara Group of Seven (G7) dan Uni Eropa membahas batas atas minyak Rusia antara 65 dolar AS dan 70 dolar AS per barel, bertujuan untuk membatasi pendapatan guna mendanai serangan militer Moskow di Ukraina tanpa mengganggu pasar minyak global.

Baca Juga: Harga Minyak Variatif, Imbas Rencana China Longgarkan Pembatasan Covid
Aktivitas Ekonomi China Melambat, Harga Minyak Mentah Merosot

Namun, negara-negara Uni Eropa, Senin, gagal menyepakati batas tersebut, dengan Polandia bersikeras harus ditetapkan lebih rendah dari tingkat yang diusulkan oleh G7, kata para diplomat.

Batas harga tersebut akan mulai berlaku pada 5 Desember, dan jika tidak ada kesepakatan, Uni Eropa akan menerapkan langkah-langkah lebih keras yang disepakati pada akhir Mei, yakni larangan semua impor minyak mentah Rusia mulai 5 Desember dan seterusnya, dan produk minyak mentah mulai 5 Februari.