Beli Motor Listrik Dapat Subsidi Rp6,5 Juta, Pengamat Soroti Hal Ini

Ilustrasi kendaraan bermotor. (pixabay)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 2 Desember 2022 | 14:30 WIB

Sariagri - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa pemerintah kini berencana untuk memberikan subsidi pembelian sepeda motor listrik mulai tahun depan. Ia memperkirakan besaran subsidi berkisar Rp6 juta per unit sepeda motor.

"Maka segera ini mobil listrik kita luncurkan dengan subsidi. Sepeda motor kita lagi finalisasi (subsidinya). Berapa juta kita mau kasih subsidi sepeda motor, mungkin Rp 6 juta. Di Thailand mungkin Rp 7 juta, kita mungkin Rp 6,5 juta," kata Luhut di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Mencermati hal itu, Direktur Eksekutif Institut Studi Transportasi Deddy Herlambang mengatakan alasan pemerintah untuk manfaat penghematan pembelian BBM atau subsidi berkurang bila masyarakat banyak menggunakan kendaraan listrik memang masuk akal.

"Memang tepat perlu konversi dari kendaraan BBM fosil diganti kendaraan listrik dengan subsidi dari negara. Namun dapat blunder di masa depan apabila kebijakan tersebut tanpa kajian domino matang sebagai multiplier effect yang malah merugikan,” kata Deddy dalam keterangan tertulis, Jumat, (2/12).

Ia menyampaikan bahwa, pemerintah terlalu bersemangat melakukan kampanye dari kendaraan BBM fosil ke kendaraan listrik namun kurang dalam kesiapan infrastruktur kendaraan listriknya. Adapun Infrastruktur kendaraan listrik yang belum disiapkan matang adalah penyediaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) sesuai demand, mengingat waktu pengisian baterai (charging) memerlukan waktu yang sangat lama dan belum ada standar kualitas baterai. Selain itu, Manajemen pengolahan limbah baterai kendaraan listrik juga belum ada.

"Jangan sampai euforia membeli kendaraan listrik telah terjadi secara massal namun regulasi dan mitigasi belum ada,” ujarnya.

Tak hanya itu, ia juga menyoroti pemerintah yang dianggap masih berideologikan transport by vehicle oriented bukan pada transport by transit oriented. Dalam hal ini pemberian subsidi kepada pembelian atau konversi kendaraan listrik bila tidak diimbangi oleh penambahan subsidi bagi pengelolaan angkutan umum massal adalah bencana bagi modal share angkutan umum.

"Kendaraan pribadi akan selalu dibeli dengan murah, sementara angkutan umum akan ditinggalkan, akibatnya volume kendaraan di jalan semakin bertambah namun ruang jalan tidak bertambah, jadi semakin macet lalu lintas di jalan. Bila pemberian subsidi kendaraan listrik tidak diimbangi dengan subsidi yang lebih berpihak ke angkutan umum, transport demand management (TDM) dapat dipastikan gagal,” jelasnya.

Baca Juga: Beli Motor Listrik Dapat Subsidi Rp6,5 Juta, Pengamat Soroti Hal Ini
Tarif Listrik Bakal Naik Tahun Ini, Pengamat: Memberatkan Masyarakat

Lebih lanjut, Deddy mengatakan bila pembeli kendaraan listrik mendapatkan subsidi oleh negara, disamping angkutan umum massal telah mendapatkan subsidi, tentunya pengguna angkutan umum harus mendapatkan insentif sehingga terdapat keseimbangan sosial.

"Insentif ini sebagai apresiasi atau terimakasih dari negara kepada pengguna angkutan umum karena tidak menggunakan kendaraan pribadinya setiap hari dalam perjalanannya, sehingga tidak menyebabkan kemacetan jalan," jelasnya.