Filipina Bakal Eksplorasi Minyak dan Gas di Laut Cina Selatan

Ilustrasi migas. (Antara)

Editor: Dera - Minggu, 4 Desember 2022 | 07:00 WIB

Sariagri - Filipina akan mencari cara untuk mengeksplorasi minyak dan gas di Laut China Selatan (LCS), bahkan tanpa kesepakatan dengan Cina. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. 

Mengutip CNN, Presiden Marcos menekankan bahwa Filipina memiliki hak untuk mengeksploitasi cadangan energi di perairan yang diperebutkan tersebut.

“Itu hal besar bagi kami, itulah mengapa kami harus berjuang (untuk apa yang menjadi milik kami) dan mengambil keuntungan jika memang ada minyak di sana,” kata Marcos.

Pembicaraan tentang eksplorasi energi bersama antara Filipina dan Cina di LCS dihentikan, kata pemerintah sebelumnya pada Juni 2022. Alasan dihentikannya pembicaraan tersebut adalah kendala konstitusional dan masalah kedaulatan.

“Itu hambatannya, sulit untuk melihat bagaimana kita bisa menyelesaikannya. Saya kira mungkin ada cara lain sehingga tidak harus G-to-G (goverment-to-government),” kata Marcos.

Pernyataan Marcos muncul setelah Menteri Luar Negeri Filipina mengatakan bahwa negara tersebut terbuka untuk pembicaraan baru dengan Cina mengenai eksplorasi minyak dan gas. Kesepakatan dengan Cina atau negara lain mana pun harus mematuhi Undang-Undang Filipina.

Filipina sangat bergantung pada bahan bakar impor untuk kebutuhan energinya, oleh sebab itu sangat rentan terhadap guncangan pasokan dan kenaikan harga minyak. Keadaan ini mendorong inflasi di Filipina yang mendekati level tertinggi dalam 14 tahun terakhir.

Selama kunjungan tiga hari minggu lalu, Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Kamala Harris menegaskan komitmen pertahanan AS-Filipina. Harris menegaskan kembali dukungan untuk putusan arbitrase 2016 yang membatalkan klaim Cina di LCS.

Baca Juga: Filipina Bakal Eksplorasi Minyak dan Gas di Laut Cina Selatan
Presiden Cina Perkuat Kerja Sama Energi dengan Rusia

Putusan tersebut, yang jelas-jelas ditolak oleh Cina, menyatakan bahwa Filipina memiliki hak berdaulat untuk mengeksploitasi cadangan energi di dalam Zona Ekonomi Eksklusif 200 mil (321 kilometer).

Perusahaan Filipina PXP Energy Corp, yang memegang izin eksplorasi di Reed Bank, wilayah yang disengketakan, melakukan pembicaraan dengan China National Offshore Oil Corp tentang usaha patungan. Tetapi klaim Filipina dan Cina yang saling bertentangan mencegah perusahaan tersebut melakukan pengeboran.