Harga Minyak Mentah Melonjak, Imbas Dolar AS Melemah

asilitas kilang minyak di lokasi industri PCK-Raffinerie GmbH, yang dimiliki bersama oleh Rosneft, menyala pada malam hari di Schwedt, Jerman, pada 4 Mei 2022. (Dok VOA)

Editor: Yoyok - Rabu, 14 Desember 2022 | 08:00 WIB

Sariagri - Harga minyak menetap di atas 80 dolar AS per barel, Selasa (13/12) atau Rabu (14/12) pagi WIB, dan mencatat kenaikan harian terbesar dalam lebih dari sebulan. Ini terjadi karena investor membeli aset berisiko setelah data Amerika menunjukkan perlambatan inflasi.

Pasar juga didukung oleh kekhawatiran tentang gangguan pasokan, termasuk penutupan jaringan pipa minyak mentah Keystone Kanada ke Amerika Serikat setelah kebocoran besar minggu lalu.

Dilaporkan, harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melambung 2,69 dolar AS atau 3,5 persen menjadi 80,68 dolar AS per barel.

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), menetap di posisi 75,39 dolar AS per barel, melonjak 2,22 dolar AS atau 3 persen. Kedua kontrak itu mencatat kenaikan harian terbesar sejak 4 November.

Indeks Dolar (Indeks DXY) jatuh pada sesi Selasa setelah data menunjukkan inflasi harga konsumen Amerika yang mendasarinya naik di bawah ekspektasi pada bulan lalu, memperkuat estimasi bahwa Federal Reserve akan memperlambat laju kenaikan suku bunga, Rabu.

Depresiasi dolar membuat minyak lebih murah bagi pemegang mata uang lainnya, yang dapat meningkatkan permintaan.

"Tidak ada yang benar-benar melihat angka itu datang di bawah ekspektasi - kemungkinan peristiwa positif permintaan yang menempatkan penawaran di pasar," kata analis Mizuho, Robert Yawger.

“Fokus sekarang akan beralih ke bagaimana Federal Reserve menanggapi laporan IHK tersebut,” tambah Yawger. 

Jeda kenaikan suku bunga bisa mendorong harga lebih tinggi.

Namun, trader mengatakan kekhawatiran pasokan minyak tetap menghantui selama beberapa hari ini, menunjukkan reli Selasa mungkin turun ke sentimen risk-on yang lebih luas setelah data inflasi tersebut.

"Ini hanya reli luas berbasis dolar," kata Eli Tesfaye, analis RJO Futures. 

"Mengingat penurunan berkelanjutan di pasar, setiap berita positif akan mengangkat minyak, tetapi masih harus dilihat apakah reli ini akan bertahan."

Reli pada sesi Selasa juga bisa disebabkan oleh trader yang menutup posisi jual, berspekulasi bahwa harga komoditas akan turun, setelah kedua tolok ukur itu jatuh lebih dari 10 persen minggu lalu.

"Setelah menerima kekalahan mutlak minggu lalu, beberapa minat beli dan perburuan barang murah kembali ke kompleks minyak mentah," kata Matt Smith, analis Kpler.

Pasar tersungkur akhir-akhir ini karena prospek permintaan yang pesimistis. Organisasi Negara Eksportir Minyak, Selasa, memangkas perkiraan permintaan minyak absolut kuartal pertama dan mengatakan perlambatan ekonomi global menjadi nyata.

Baca Juga: Harga Minyak Mentah Melonjak, Imbas Dolar AS Melemah
Aktivitas Ekonomi China Melambat, Harga Minyak Mentah Merosot

Para pemimpin China dilaporkan menunda pertemuan kebijakan ekonomi karena melonjaknya infeksi Covid-19, menambah kekhawatiran tentang pemulihan permintaan di importir minyak mentah terbesar dunia itu.

Keystone Pipeline milik TC Energy, yang mengirimkan 620.000 barel per hari minyak mentah Kanada ke AS, tetap ditutup setelah tumpahan minggu lalu, yang dapat mengurangi persediaan Amerika secara keseluruhan, terutama di hub Cushing, Oklahoma, titik pengiriman bagi kontrak berjangka WTI.