Teknologi Ini Tingkatkan Pertumbuhan Rumput Laut Sebagai Bahan Baku Biofuel

Ilustrasi rumput laut (Arief L/ SariAgri Jawa Timur)

Editor: Arif Sodhiq - Jumat, 5 Maret 2021 | 10:15 WIB

SariAgri - Biofuel selama ini berbahan dasar tanaman pertanian seperti jagung, tebu dan kedelai. Jenis tanaman bahan baku biofuel diproduksi secara massal sehingga menyebabkan degradasi lingkungan. Sebuah studi yang dilakukan para ilmuwan dari University of Southern California menemukan teknologi baru akuakultur untuk meningkatkan pertumbuhan rumput laut.

Para ilmuwan memiliki visi untuk menjadikan rumput laut sebagai bahan baku pembuatan biofuel yang lebih ramah lingkungan. Mereka optimistis nantinya bahan baku nabati seperti rumput laut dapat menggantikan bensin, solar, bahan bakar jet dan gas alam.

Ada dua alasan penting yang menjadikan rumput laut berpotensi sebagai bahan baku pengganti pembuatan biofuel. Alasan pertama, tanaman laut tidak bersaing untuk mendapatkan air tawar, lahan pertanian dan pupuk. Sedangkan alasan kedua, tanaman laut tidak akan mengancam habitat penting seperti halnya yang terjadi pada penggunaan lahan untuk bercocok tanam.

Teknologi temuan mereka diberinama “elevator kelp” atau ‘elevator rumput laut‘. Tujuannya untuk mengoptimalkan pertumbuhan rumput laut dengan menaikkan dan menurunkannya ke kedalaman laut yang berbeda.

Elevator rumput laut terdiri dari tabung fiberglass dan kabel baja tahan karat yang menopang rumput laut di laut terbuka. Rumput laut muda ditempelkan pada balok horizontal dan seluruh struktur dinaikkan dan diturunkan di kolom air menggunakan mesin derek otomatis.

“Eksperimen di Pantai California Selatan ini merupakan langkah penting dalam menunjukkan bahwa rumput laut dapat dikelola untuk memaksimalkan pertumbuhannya yang kemudian dapat dijadikan bahan baku baru dalam membuat biofuel,” kata Diane Young Kim dari USC Wrigley Institute.

Kelp (Laminariales) merupakan salah satu jenis alga coklat yang tumbuh paling cepat dengan siklus hidup mudah dipahami sehingga sangat cocok untuk dibudidayakan. Namun muncul kendala pada laut dalam yaitu rendahnya nutrisi dan cahaya matahari yang sangat penting untuk pertumbuhan kelp.

Teknologi elevator pada budidaya kelapa dapat menopang pertumbuhan yang lebih cepat. Sejak 2019, para peneliti telah melakukan penyelaman dan menempelkan kelp ke elevator lalu menyelepaskannya di pantai barat laut Pulau Catalina. Setiap 100 hari, elevator akan mengangkat rumput laut ke permukaan pada siang hari agar dapat menyerap sinar matahari, kemudian elevator akan turun sekitar 269 kaki ke bawah laut pada malam hari untuk menyerap nitrat dan fosfat di laut yang lebih dalam.

“Kami menemukan kelp dapat tumbuh lebih cepat dengan sistem elevator daripada kelp yang tumbuh secara alami, bahkan dapat menghasilkan empat kali lebih banyak biomassa,” kata Kim.

Baca Juga: Teknologi Ini Tingkatkan Pertumbuhan Rumput Laut Sebagai Bahan Baku Biofuel
Rumput Laut Berpotensi Sebagai Alternatif Protein Berkelanjutan

Selain itu, kemampuan rumput laut dalam menahan tekanan yang lebih besar di bawah air juga menjadi alasan tanaman air tersebut cocok untuk dibudidayakan secara massal.

“Setelah diimplementasikan nantinya teknologi ini dapat mengarah pada cara baru menghasilkan bahan bakar yang netral karbon dan terjangkau sepanjang tahun,” kata Brian Wilcox dari Marine BioEnergy.

Video Terkait