Ini Cara Indonesia Kurangi Emisi Gas Buang untuk Mencegah Perubahan Iklim

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif (Foto: Istimewa))

Editor: M Kautsar - Kamis, 28 Oktober 2021 | 12:50 WIB

Sariagri - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif menyampaikan bahwa Indonesia sejak awal menegaskan untuk ikut serta dalam upaya pencegahan perubahan iklim. Secara individual Indonesia akan mengurangi emisi gas buang hingga 29 persen di tahun 2030 mendatang.

“Apabila langkah itu dilakukan secara bersama-sama atau berkolaborasi dengan masyarakat dunia komitmen pengurangan emisi gas buang bisa ditingkatkan menjadi 41 persen,” kata Arifin dalam webinar Climate Leaders Message, Kamis (28/10).

Arifin mengungkapkan bahwa upaya pengurangan emisi gas buang terus dilakukan rakyat Indonesia pemerintah Indonesia telah mengurangi laju deforestasi. Disebutkannya, anggka deforestasi Indonesia pada periode 2019-2020 mengalami penurunan hingga 75 persen atau sekitar 115,5 ribu hektare. Dibandingkan periode 2018-2019 yang mencapai 462,5 ribu hektare.

“Komitmen pemerintah juga tegas untuk terus berada di jalur pengurangan deforestasi sebagai salah satu sumber penurunan emisi. Upaya masih terus dilakukan dan sumberdaya terus dialokasikan untuk mengendalikan tingkat deforestasi di Indonesia diberbagai tingkatan,” ungkapnya.

Dia menyebut bahwa Presiden Joko Widodo juga turut aktif mengkampanyekan upaya penyelamatan bumi antara lain penanaman mangrove bersama duta besar Uni Eropa di Kalimantan Utara.

“Satu lagi kontribusi besar Indonesia bagi penyelamatan bumi adalah terumbu karang yang kita miliki, dengan sama-sama menjaga terumbu karang yang terbentang di seluruh wilayah Indonesia kita akan membantu penyerapann CO2, karena diketahui terumbu karang merupakan makhluk hidup yang paling kuat menyerap CO2,” sebutnya.

Turunkan emisi gas buang

Sektor energi, lanjut Arifin, tak ketinggalan ambil bagian dalam penurunan emisi gas buang di antaranya penggunaan bio energi, mendorong penggunaan kendaraan listrik, mengubah pembangkit listrik energi fosil menjadi energi yang lebih bersih terbarukan seperti energi solar, hidropower, angin, panas bumi dan lainnya.

“Penggunaan bio energi terbukti tidak banyak berpengaruh kepada kinerja mesin, ini tentunya memberikan sinyal yang positif bagi pengurangan energi yang berasal dari fosil. Kita pantas bersyukur karena banyak energi yang dimiliki Indonesia,” kata dia.

Baca Juga: Ini Cara Indonesia Kurangi Emisi Gas Buang untuk Mencegah Perubahan Iklim
Percepat Pengembangan EBT, Indonesia-AS Jalin Kerja Sama di Sektor Energi

Lebih lanjut Arifin menambahkan bahwa teknologi di bidang energi baru terbarukan telah berkembang luar biasa. Dikatakannya, saat ini untuk menghasilkan satu megawatt listrik yang berasal dari solar hanya membutuhkan 0, sekian hektare area, dari sebelumnya yang satu hektare.

“Dengan begitu banyaknya sumber daya alam yang kita miliki, bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan energi untuk kebutuhan dalam negeri tapi kita juga bisa melakukan ekspor. Inisiatif itu sudah kita mulai, di mana 100 megawatt energi yang berasal dari sinar matahari akan kita ekspor dari Pulau Bulan ke Singapura pada 2024 yang akan datang,” pungkasnya.

Video Terkait