Menilik Potensi Luar Biasa Tanaman Nyamplung sebagai Bahan Baku Biodiesel

Buah nyamplung miliki potensi sebagai sumber bahan baku biodiesel. (Antara/Suriani Mappong)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Senin, 20 Desember 2021 | 10:30 WIB

Sariagri - Tanaman nyamplung merupakan tanaman berkayu dengan tinggi pohon dapat mencapai 25 meter dengan diameter 150 centimeter yang memiliki potensi. Morfologi tanaman nyamplung ini dengan batang berkayu, kulit batang beralur dan mengelupas besar-besar, biasanya dijadikan oleh masyarakat sebagai bahan untuk membuat perahu atau rumah kayu.

Sedang daunnya yang berbentuk bulat memanjang, pangkal membulat dan pertulangannya menyirip. Biji nyamplung yang berbentuk bulat dengan kulit tebal dan keras dengan diameter 2,5-4 cm, daging biji tipis dan biji kering yang dapat tahan selama satu bulan, inti biji mengandung minyak berwarna kuning kecoklatan (Bustomi, et al., 2008).

Peneliti pada Balai Besat Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLKH) Prof Budi Leskono mengatakan, pohon nyamplung yang toleran terhadap lahan kritis ini, dapat berbuah sepanjang tahun dengan produksi mencapai 50-150 kilogram per pohon per tahun.

Ia mengatakan, pihaknya sudah melakukan penelitian 12 populasi nyamplung yang tersebar di delapan pulau di Indonesia. Salah satunya di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.

Pemanfaatan biji nyamplung, termasuk kegunaan limbahnya hingga teknik budi daya sudah diketahui. Hanya saja, belum ada benih unggul dengan produktivitas tinggi untuk mendukung budi daya nyamplung di lapangan.

Potensi nyamplung sebagai sumber energi alternatif sangat besar. Sebab produktivitasnya lebih tinggi dari tanaman jarak, sehingga pemerintah daerah harus berkolaborasi mengembangkan.

Terlebih setelah diketahui dari analisis di Laboratorium Fitokimia Biologi Farmasi oleh Budi Leksono beserta Tim Penelitian Nyamplung pada 2012 bahwa minyak nyamplung (tamanu oil) mengandung kumarin.

Kandungan dan khasiat lain dari tamanu oil mulai digali dengan menggunakan sampel biji yang berasal dari delapan pulau di Indonesia dan akhirnya diketahui bahwa selain sebagai sumber energi alternatif, juga sebagai bahan kosmetik dan obat.

Hal itu dibenarkan peneliti muda asal Balai Besar Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar C Andriyani Prasetyawati. Pihaknya kurang lebih dua tahun telah melakukan penelitian tanaman nyamplung di kawasan Kepulauan Selayar.

Baca Juga: Menilik Potensi Luar Biasa Tanaman Nyamplung sebagai Bahan Baku Biodiesel
Percepat Pengembangan EBT, Indonesia-AS Jalin Kerja Sama di Sektor Energi

Potensi tanaman nyamplung di Selayar sangat besar, hanya saja hingga kini kurang dikembangkan masyarakat, karena kendala pemasaran. Selain itu, pabrik pengolahannya juga rusak, sehingga tidak dapat digunakan mengolah BBN (Bahan Bakar Nabati).

Karena itu, diharapkan ada keseriusan pemerintah setempat untuk membantu mengembangkan potensi nyamplung sebagai sumber ekonomi baru bagi warga Selayar, maupun sebagai sumber energi alternatif dalam mendukung bauran Energi Baru Terbarukan (EBT).

Video Terkait