Indonesia Miliki Potensi EBT yang Besar Kenapa Diekspor? Begini Kata Kementerian ESDM

Salah satu pembangkit listrik sumber energi baru terbarukan (EBT) memanfaatkan tenaga surya atau PLTS di Nusa Tenggara Timur. (Antara/HO-PLN)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Rabu, 19 Januari 2022 | 17:15 WIB

Sariagri - Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dadan Kusdiana mengatakan Indonesia akan bergabung dengan negara-negara lain terkait penurunan gas rumah kaca sebesar 29 persen di 2030 dan juga Net Zero Emission pada 2060.

“Ini salah satunya dengan peningkatan pemanfaatan energi baru terbarukan. Kita ini memiliki energi terbarukan yang sangat melimpah, kedua jenisnya beragam, ketiga ini tersebar di seluruh wilayah Indonesia,” ujarnya dalam konpers Peluncuran Acara [RE]Spark 2022 oleh New Energy Nexus Indonesia, Rabu (19/1/2022).

Ketiga aspek tersbut, kata Dadan, menjadi muara besar bagi Indonesia untuk membawa ke Net Zero Emission di tahun 2060. Dia mencontohkan, Indonesia adalah negara kedua terbesar yang memiliki potensi panas bumi mulai dari Barat hingga ke Timur.

“Kalau kita bicara hidro juga demikian, kita sekarang sedang mengembangkan beberapa projek PLTA cukup besar di wilayah Aceh, Kalimantan Utara, Papua,” katanya.

Dikatakannya, saat ini ada inisatif dari pemerintah yaitu mengekspor listrik tenaga surya ke wilayah Singapura. Menurutnya, ini menjadi salah satu opsi dari pengembangan dari sisi investasi.

“Memang nanti teman-teman nanya, ‘loh kenapa kok mendorong pemanfaatan ini tetapi hasilnya diekspor?’ saya kira EBT ini adalah salah satu SDA yang ada di kita sama kita dengan mengolah batu bara, nikel kan itu juga dari kita kemudian hasilnya sebagian setalah diolah diekspor, nah energi juga demikian dan ini menjadi salah satu sumber devisa kita,” imbuhnya.

Baca Juga: Indonesia Miliki Potensi EBT yang Besar Kenapa Diekspor? Begini Kata Kementerian ESDM
Serius Investasi Energi Bersih, Pemerintah Gelontorkan 3,91 Miliar Dolar di 2022

Selain itu, lanjut dia, bio massa juga akan menjadi potensi besar Indonesia karena memiliki tanah yang subur, masyarakat memeliki latar belakang pertanian, luas lahan mencukupi, menurutnya hal tersebut bisa dikembangkan menjadi EBT.

“Kita misalkan ingin memproduksi listrik 100 KW, kita siapkan sekian hektar bio massa nya, kita ingin membuat PLT bio massa 100 mega watt kita juga bisa, kita siapkan saja lahan, kita olah. Memang agak berbeda kalau kita mengembangkan listrik dari matahari, kita kan mengembangkan lewat panel, setelah itu tunggu dan berdoa semoga tidak hujan,” imbuhnya.

Video Terkait