Jadi Beban APBN, Kenaikan Harga Minyak Dunia Merugikan Indonesia

Ilustrasi Mengisi Bahan Bakar Minyak. (Sariagri/Pixabay)

Editor: Reza P - Sabtu, 5 Maret 2022 | 18:00 WIB

Sariagri - Pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi mengungkapkan kenaikan harga minyak dunia yang mencapai USD 105 per barel akan merugikan karena Indonesia adalah net importer komoditas tersebut.

"Kenaikan harga minyak di atas USD 100 per barel, tentunya sangat memberatkan APBN. Semakin tinggi kenaikan harga minyak, beban APBN makin berat," ujarnya.

Fahmy menyebutkan bahwa beban APBN semakin bertambah, karena adanya anggaran kompensasi yang diberikan pemerintah kepada Pertamina. Terutama, kata dia, saat menjual bahan bakar minyak (BBM) di bawah harga keekonomian.

Apabila tidak ada kenaikan harga BBM, APBN jelas semakin terbebani. Namun, kenaikan harga BBM di dalam negeri juga menjadi opsi dilematis bagi pengambil kebijakan. Sebab, langkah itu akan berdampak pada meningkatnya laju inflasi dan melemahkan daya beli masyarakat.

"Saat harga minyak dunia di atas USD 100 per barel, pemerintah perlu naikkan harga BBM secara selektif, yakni menaikkan harga pertamax ke atas dan hapus premium. Namun, jangan naikkan harga pertalite," katanya.

Baca Juga: Jadi Beban APBN, Kenaikan Harga Minyak Dunia Merugikan Indonesia
Pengembangan Bahan Bakar Nabati Terus Ditingkatkan untuk Substitusi BBM

Menurutnya, Pertamina bisa menaikkan harga BBM nonsubsidi, seperti pertamax turbo, pertamax dex, dan dexlite. Kenaikan harga BBM selektif dinilai sebagai keputusan yang tepat dan cermat untuk mengurangi beban APBN. Dalam hal ini, tidak memicu inflasi dan memperburuk daya beli rakyat.

"Alasannya, proporsi konsumen kecil dan Pertamax tidak digunakan transportasi umum. Sehingga, tidak secara langsung menaikkan biaya distribusi, yang memicu kenaikan harga kebutuhan pokok," pungkasnya.

Video Terkait