Melihat Perjalanan Minyak Tanah, dari Langka hingga Tak Ada

Ilustrasi lampu petromak menggunakan minyak tanah. (Foto: Unsplash)

Editor: Putri - Selasa, 15 Maret 2022 | 15:50 WIB

Sariagri - Kelangkaan minyak goreng saat ini bisa dibilang de javu. Sebelumnya masyarakat Indonesia pernah merasakan kelangkaan suatu barang, yaitu minyak tanah.

Indonesia pertama kali menemukan minyak bumi secara tidak sengaja di daerah Langkat, Sumatera Utara, pada 1883. Area tersebut menjadi lapangan minyak pertama dan titik awal produksi minyak bumi di Indonesia. Dari sejarah ini, diketahui bahwa di Indonesia, hidrokarbon sudah dikenal sejak akhir abad ke-19.  

Kelangkaan minyak tanah kemudian dirasakan saat Indonesia dijajah Jepang. Tidak hanya minyak tanah, saat itu masyarakat Indonesia yang masih berjumlah kurang dari 70 juta juga mengalami kelaparan karena bahan pokok langka. Sekalinya ada, harganya naik 2-3 kali lipat. Hanya orang berduit yang mampu membeli barang-barang tersebut. 

Keadaan tersebut berlanjut saat masa Orde Lama. Banyak rakyat yang antre minyak tanah karena hanya dengan minyak tersebut kompor bisa menyala. Keadaan semakin memburuk karena dalam keadaan inflasi serta kelangkaan pangan.

Minyak tanah dan sembako kembali mengalami kelangkaan menjelang lengsernya Presiden Soeharto. Antrean di mana-mana terjadi untuk mendapatkan setidaknya 3 atau 4 liter minyak tanah.

Pemandangan antre panjang untuk mendapatkan minyak tanah terus berlanjut hingga era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Beberapa daerah di Indonesia mengalami kelangkaan minyak tanah yang dijual sekitar Rp1.300-Rp1.400 per liter.

Saat itu diketahui kelangkaan minyak tanah akibat sistem distribusi yang bermasalah. Isu penimbunan yang dilakuka oleh distributor atau masyarakat juga dikemukakan. Pencampuran minyak tanah dengan solar juga meningkat, sejumlah kalangan mencurigai truk-truk tangki yang umumnya tanpa logo menyalahgunakan minyak tanah.

Konversi Minyak Tanah ke LPG

Konsumsi minyak tanah yang meningkat diakui pemerintah membebani anggaran negara. Hal tersebut dikarenakan banyaknya minyak tanah bersubsidi namun tidak tepat sasaran. Banyak masyarakat mampu yang membeli minyak tanah bersubsidi secara berbondong-bondong dan pada akhirnya minyak tanah akan selalu langka.

Hingga akhirnya pada 2007, konversi minyak tanah ke LPG diberlakukan. Diberlakukannya konversi dirasa manjur memberatas penyelewengan yang kerap terjadi dalam penjualan minyak tanah. Selain itu, menurut Konversi Mitan ke Gas oleh Kementerian ESDM, dinyatakan bahwa pemakaian LPG memberikan penghematan sekitar Rp16.500 hingga Rp29.250 bagi setiap KK yang menjadi sasaran program konversi ini.

Rencana konversi telah dikemukakan sejak 2000. Menurut undang-undang (UU) No. 25/2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas), pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bersepakat, akan menghapus subsidi BBM secara bertahap. Dari kesepakatan itu, subsidi untuk minyak tanah mendapat pengecualian.

Dengan kata lain, pemerintah masih mensubsidi minyak tanah untuk keperluan masyarakat berpendapatan rendah dan industri kecil. Namun seiring berjalannya waktu, subsidi untuk minyak tanah kian memberatkan. Banyaknya praktek pengoplosan di masyarakat menyebabkan permintaan volume minyak tanah kian membengkak.

Saat itu pemerintah juga dihadapkan dengan harga minyak dunia yang bertengger pada kisaran 50-60 dolar per barel. Padahal minyak tanah diimpor harus dibeli dengan dolar, sementara dijual di dalam negeri dengan rupiah.

Karena itulah, konversi minyak tanah ke LPG dianggap sebagai terobosan penting dalam mengatasi rancunya pengembangan dan pemanfaatan energi, sekaligus mengurangi tekanan terhadap RAPBN.

Baca Juga: Melihat Perjalanan Minyak Tanah, dari Langka hingga Tak Ada
Harga Minyak Anjlok Dipicu Titik Terang Negosiasi Rusia-Ukraina

Mengutip situs Kemeterian ESDM, sejak mulai dilaksanakan 2007 hingga menjelang akhir 2010 telah dibagikan paket perdana sebanyak 44.675.000 ke seluruh wilayah Indonesia atau lebih dari 100 persen dari target. Sebanyak 3.793.000 metrik ton (MT) LPG telah dikonsumsi masyarakat sasaran. Sedang minyak tanah yang ditarik mencapai 11.317.000 KL. Penghematan yang berhasil dilakukan mencapai sebesar Rp19,34 triliun.

Meski demikian, gas LPG juga pernah mengalami kelangkaan. Pada 2020 dan 2021, kelangkaan LPG 3 kg atau tabung melon diakibatkan karena subsidi LPG 3 kg tidak tepat. Subsidi yang diberikan pada komoditas membuat orang kaya bisa mengakses dengan mudah, padahal subsidi LPG 3 kg ditujukan untuk orang miskin.