Geser Rusia, Arab Saudi Jadi Pemasok Utama Minyak ke Cina

Ilustrasi - Kilang minyak bumi. (Piqsels)

Editor: Putri - Senin, 21 Maret 2022 | 16:40 WIB

Sariagri - Arab Saudi kembali menjadi pemasok utama minyak mentah Cina. Arab Saudi memasok minyak untuk Cina dalam dua bulan pertama pada 2022.

Sebelumnya Rusia adalah pemasok utama minyak di Cina. Namun pengiriman Rusia turun 9 persen karena pemotongan kuota impor minyak sejak invasi Rusia ke Ukraina.

Mengutip Reuters, kedatangan minyak mentah Arab Saudi mencapai 14,61 juta ton pada Januari-Februari 2022, setara dengan 1,81 juta barel per hari. Jumlah tersebut turun dari 1,86 juta barel per hari setahun sebelumnya, menurut data dari Administrasi Umum Kepabeanan.

Sebelumnya Arab Saudi dan Cina dalam pembicaraan aktif untuk menentukan harga sebagian dari penjualan minyaknya dalam nilai yuan.

Langkah Arab Saudi menerima mata uang yuan Cina sebagai transaksi penjualan minyak dinilai akan mengurangi dominasi dolar Amerika Serikat (AS) di pasar minyak global.

Impor minyak mentah dari Rusia mencapai 12,67 juta ton dalam dua bulan atau 1,57 juta barel per hari. Jumlah tersebut sedikit dibandingkan dengan impor Arab Saudi dengan 1,72 juta barel per hari pada 2021 di periode yang sama.

Akibat penurunan impor, Rusia sangat terpukul. Pelanggan andalan Rusia dari Cina yang biasa meminta minyak mentah jenis ESPO dilarang oleh pemerintah Cina.

Pemerintah Cina juga memotong batch pertama dari tunjangan impor minyak mentah 2022, yang bertujuan untuk menghilangkan kapasitas penyulingan yang tidak efisien.

Jumlah impor minyak dari Rusia bisa jatuh pada Maret karena pembeli di seluruh dunia menghindari pembeliann krisis Ukraina yang semakin intensif.

Produsen Rusia Surgutneftegaz bekerja sama dengan Cina untuk melewati sanksi Barat dan mempertahankan penjualan minyak.

Data bea cukai pada Minggu 20 Maret 2022 menunjukkan bahwa 259.937 ton minyak mentah Iran tiba di Cina pada Januari 2022, jumlahnya sama seperti pada Desember 2021 dan pertama kalinya dicatat oleh data resmi Cina sejak Desember 2020.

Pengiriman minyak tersebut dilakukan ketika Iran dan negara-negara Barat mengadakan pembicaraan tentang menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015, Hal tersebut menunjuk kemungkinan pencabutan sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran.

Baca Juga: Geser Rusia, Arab Saudi Jadi Pemasok Utama Minyak ke Cina
Jadi Beban APBN, Kenaikan Harga Minyak Dunia Merugikan Indonesia

Data resmi Cina juga menunjukkan tidak ada impor dari Venezuela, yang juga berada di bawah sanksi AS, pada Januari dan Februari.

Arab Saudi mempertahankan posisinya sebagai pemasok minyak mentah terbesar ke Cina selama 11 bulan berturut-turut pada Oktober, dengan volume naik 19,5 persen dari 2020. Hal tersebut terlihat dari data bea cukai yang ditunjukkan pada Minggu 20 Maret 2022.

Video Terkait