Harga Minyak Melonjak, Beginilah Efek yang Terjadi

Ilustrasi BBM. (Antara)

Penulis: Yoyok, Editor: Reza P - Senin, 11 April 2022 | 18:35 WIB

Sariagri - Konflik antara Rusia dan Ukraina telah membuat harga minyak dunia meningkat melebihi ekspektasi banyak negara. Berbagai upaya menekannya juga tak mampu membua harga minyak mentah kembali di bawah 100 dolar Amerika Serikat (AS) per barel. 

Kini, sekali pun turun, harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, sekitar 102 dolar AS per barel sedangkan patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) sekitar 100 dolar AS per barel. Harga minyak ini merupakan harga pembukan pada Senin, 7 April 2022.

Sementara itu, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) sebesar 113,5 dolar AS per barel pada Maret 2022. Harga tersebut meningkat 18,6 persen dari 95,72 dolar AS per barel pada Februari 2022. 

ICP Maret 2022 itu merupakan harga tertinggi sejak Februari 2013. Ketika itu ICP sempat ditetapkan sebesar 114,86 dolar AS per barel. 

Menurut Executive Summary Tim Harga Minyak Indonesia, faktor yang mempengaruhi peningkatan harga minyak mentah utama di pasar internasional adalah pengenaan sanksi negara-negara Barat terhadap ekspor minyak mentah Rusia. Sanksi tersebut dinilai berpotensi menambah defisit pasokan minyak mentah global di saat permintaan mulai mengalami peningkatan. 

Kenaikan ICP menyebabkan harga keekonomian bahan bakar minyak (BBM) meningkat sehingga menambah beban subsidi BBM dan LPG serta kompensasi BBM dalam APBN. Setiap kenaikan 1 dolar AS per barel berdampak pada kenaikan subsidi LPG sekitar Rp1,47 triliun, subsidi minyak tanah sekitar Rp49 miliar, dan beban kompensasi BBM lebih dari Rp2,65 triliun.

Sebagaimana diketahui, subsidi BBM dan LPG 3 kg dalam APBN 2022 sebesar Rp77,5 triliun. Subsidi tersebut pada saat ICP sebesar 63 dolar AS per barel.

Selain itu, kenaikan ICP juga memberikan dampak terhadap subsidi dan kompensasi listrik, mengingat masih terdapat penggunaan BBM dalam pembangkit listrik. Setiap kenaikan ICP sebesar 1 dolar AS per barel berdampak pada tambahan subsidi dan kompensasi listrik sebesar Rp295 miliar.

Selain dampak terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan keuangan PT Pertamina,, kenaikan harga minyak juga berdampak pada sektor lainnya khususnya transportasi dan industri yang mengkonsumsi BBM non-subsidi. 

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak, Beginilah Efek yang Terjadi
Harga Minyak Indonesia Maret Sentuh 113,50 Dolar AS per Barel

Bukan itu saja, kenaikan harga BBM juga mengerek biaya produksi kalangan pengusaha. Malah, sejumlah usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terpaksa menyesuaikan harga produk agar tak rugi. Sedangkan bagi yang tak mampu mesti alih profesi atau gulung tikar.

Kenaikan harga bahan bakar menjadi berat bagi pengusaha karena tak lagi mendapatkan subsidi dari pemerintah. Inilah sebab, saat ini banyak pengusaha menahan diri untuk melakukan ekspansi atau pengembangan usaha. Sebab, prospek ke depan masih banyak ganjalan, terutama faktor eksternal. Ketidakpastian ini tentu saja menggerus harapan.

Video Terkait