Bencana Harga Minyak Melambung Kembali di Depan Mata

Ilustrasi BBM. (Antara)

Penulis: Yoyok, Editor: Reza P - Jumat, 15 April 2022 | 16:10 WIB

Sariagri - Belum selesai mengutak-atik kebutuhan minyak mentah setelah diterpa geger invasi Rusia ke Ukraina, kali ini dunia dihadapkan lagi dengan rencana Uni Eropa (UE) menerapkan sanksi melarang secara bertahap impor dari Rusia. 

Runyamnya, belum lagi diterapkan, baru berupa pemberitaan saja tentang sanksi UE kepada Rusia, harga minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melonjak 2,92 dolar AS atau 2,68 persen menjadi 111,70 dolar AS per barel, Kamis (14/4) atau Jumat (15/4) pagi WIB.

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melesat 2,70 dolar AS atau 2,59 persen  menjadi 106,95 dolar AS per barel.

Serta merta saja larangan bertahap itu akan memaksa negara-negara anggota UE mencari sumber alternatif,  beberapa di antaranya dalam jangka pendek akan dipenuhi oleh pelepasan Cadangan Minyak Strategis (SPR). Namun, kondisi ini hanya sementara karena jangka panjang diperlukan untuk menjaga stabilitas pasokan.

Lebih dari itu, bukan saja Eropa, negara lain juga membutuhkan minyak. Lalu terbayangkan tentang negara-negara saling berebut minyak.

Berdasarkan hitungan Badan Energi Internasional (IEA) terdapat sekitar 3 juta barel per hari minyak Rusia yang berkurang mulai Mei dan seterusnya karena sanksi atau pembeli secara sukarela menghindari kargo Rusia. Selain itu, perusahaan perdagangan global berencana membatasi pembelian minyak mentah dan bahan bakar dari perusahaan migas yang dikendalikan pemerintah Rusia pada Mei.

Indonesia mau tak mau bakal terkena dampak dari keputusan UE terhadap impor minyak Rusia. Salah satu yang pasti terkait dengan harga bahan bakar minyak (BBM). Sebab, setiap kenaikan 1 dolar AS per barel akan membebani anggaran negara untuk subsidi BBM dan kompensasi listrik sebesar Rp295 miliar.

Selain itu, saat ini realisasi Harga Minyak Mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) telah melampaui batas yang ditetapkan oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2022, sebesar 63 dolar AS per barel. Saat ini rata-rata realisasi ICP hingga Maret 2022 sudah mencapai 98,4 dolar AS barel. 

Baca Juga: Bencana Harga Minyak Melambung Kembali di Depan Mata
Rusia-Ukraina Makin Membara, Ini Kata Pertamina Soal Dampaknya Terhadap Harga BBM

Ujung dari naiknya harga minyak dunia adalah kemampuan anggaran negara. Boleh jadi, dalam waktu dekat pemerintah akan menaikkan harga BBM subsidi seperti Premium, Pertalite, Solar, elpiji 3 kilogram, dan tarif listrik. Jika tidak, anggaran bakal jebol.

Bencana harga minyak dunia sudah di depan mata. Tak ada cari lain selain menaikkan harga minyak untuk kebutuhan dalam negeri. Di sinilah perlunya pemerintah untuk bisa menjaga kepercayaan masyarakat yang sudah terbebani banyak keperluan pokok di tengah kesabaran menjalankan ibadah puasa.

Video Terkait