RI Miliki Peran Jadi Leader Ketersediaan Minyak Nabati Dunia

Ilustrasi Minyak Goreng. (Sariagri/Pixabay)

Editor: Tatang Adhiwidharta - Jumat, 13 Mei 2022 | 14:40 WIB

Sariagri - Industri kelapa sawit menjadi sektor strategis yang memiliki kontribusi besar dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Apalagi dalam upaya upaya pengentasan kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja bagi sekitar 16 juta pekerja.

Dari sisi perdagangan, sektor industri sawit juga telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan dengan menghasilkan devisa nasional sebesar USD35,5 miliar pada tahun 2021.

Adanya pandemi Covid-19, kegagalan panen karena faktor iklim, ditambah dengan perkembangan geopolitik yang terjadi di kawasan Eropa telah menyebabkan disrupsi di pasar minyak nabati dunia khususnya Uni Eropa.

Untuk diketahui Rusia dan Ukraina merupakan negara produsen minyak biji bunga matahari (sunflower oil). Sehingga konflik diantara kedua negara tersebut telah menyebabkan kelangkaan pasokan sunflower oil di beberapa negara Uni Eropa.

"Kelapa sawit ini sangat penting untuk negara kita. Buktinya begitu harga kelapa sawit tinggi dan ada isu minyak goreng, reaksi masyarakat sedemikian besarnya. Mulai sekarang kita harus mulai membangun dari bawah. Membangun suasana yang stabil dari hulu sampai hilir," ungkap Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Musdhalifah Machmud, dikutip dari laman resmi Kementerian Koordinator Perekonomian (Kemenko Perekonomian) RI pada Jumat (13/5/2022).

Sementara itu, Adjunct Professor Fox School of Business at Temple University of Philadelphia and John Cabot University Rome, Italy Prof. Pietro Paganini, menekankan saat ini momen yang tepat bagi Indonesia untuk mengambil peranan sebagai leader dalam penyediaan minyak nabati di dunia.

Baca Juga: RI Miliki Peran Jadi Leader Ketersediaan Minyak Nabati Dunia
BPDPKS Catat Peremajaan Sawit Rakyat Sejak 2016 Capai 172.934 Hektare

Terlepas dari isu domestik yang terjadi terkait minyak goreng dan pelarangan ekspor CPO serta turunannya, minyak kelapa sawit saat ini dibutuhkan oleh Uni Eropa. Bahkan dunia untuk mengisi kekosongan stok sunflower oil yang tidak dapat diisi oleh minyak nabati lain seperti soybean oil, rapeseed oil maupun olive oil.

"Harus diakui bahwa Indonesia telah lebih maju dalam pembangunan kelapa sawit secara berkelanjutan, Indonesia juga telah menunjukkan kerja keras untuk mengatasi deforestasi selama satu dekade terakhir. Karena itu, akan menjadi momen yang tepat sebagai yang memegang Presidensi G20 untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kelapa sawit yang berkelanjutan, sehat dan aman merupakan jawaban untuk mengatasi kekurangan minyak nabati di dunia," pungkas Prof. Paganini.

Video Terkait