Rendah Emisi, RI Garap Proyek Biometana Limbah Pabrik Kelapa Sawit

Ilustrasi industri kelapa sawit. (Pixabay)

Penulis: Rashif Usman, Editor: Reza P - Jumat, 13 Mei 2022 | 17:05 WIB

Indonesia direncakan menggarap proyek biometana dari limbah pabrik kelapa sawit sebagai penghasil gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) sebagai produk energi baru terbarukan yang ramah lingkungan dan rendah emisi.

Proyek ini dikerjakan antara PT Pertamina (Persero) dan tiga perusahaan gas asal Jepang yakni Osaka Gas, JGC Holdings, dan Inpex Coorporation.

"Selain mengembangkan energi baru terbarukan, kerja sama itu akan membantu mengatasi tantangan lingkungan terutama dengan mengubah limbah kelapa sawit menjadi energi ramah lingkungan," kata Vice President Komunikasi Korporat Pertamina Heppy Wulansari dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (12/5/2022).

Proyek biometana itu merupakan bagian dari perwujudan Asia Energy Transition Initiative (AETI) yang diluncurkan Pemerintah Jepang pada 2021.

Tujuan proyek ini guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sekaligus mendukung pencapaian netralitas karbon di kawasan Asia melalui transisi menuju energi bersih.

Perlu diketahui, Indonesia merupakan produsen dan pengekspor minyak sawit terbesar di dunia yang menyerap tiga juta tenaga kerja dan menghasilkan 4,5 persen dari produk domestik bruto.

Limbah pabrik kelapa sawit mengandung bahan organik yang menghasilkan emisi metana yang signifikan.Metana memiliki dampak pemanasan global 25 kali lebih besar dibandingkan dengan karbon dioksida.

Proyek tersebut dimaksudkan sebagai usaha mengurangi emisi gas rumah kaca dari limbah sawit dengan mengubahnya menjadi bahan bakar organik, sehingga akan berkontribusi terhadap pasokan energi bersih secara berkelanjutan.

Pertamina dan mitra akan bersama-sama melakukan studi kelayakan proyek, termasuk kerja sama dalam penelitian dan pengembangan teknologi serta solusi yang berkaitan dengan produksi biometana dari sumber limbah pabrik kelapa sawit yang berlokasi di Sumatera dan Kalimantan.

Kerja sama itu juga akan mengkaji peluang memanfaatkan mekanisme kredit karbon dan skema sertifikasi biometana untuk mengamankan netralitas karbon.

Selain itu, kerja sama tersebut juga akan mengkaji peluang pemasaran biometana atau bio-LNG dan bahan bakar bunker, termasuk ekspor bio-LNG ke Jepang dan juga negara lain.

Heppy mengatakan Pertamina memosisikan kerja sama itu sebagai kelanjutan dari beberapa proyek pengembangan energi hijau yang telah dikembangkan perseroan selama ini. Kerja sama itu juga bagian dari upaya mendukung upaya pemerintah mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 30 persen sebelum tahun 2030.

Dalam proyek itu, Pertamina akan menyediakan beberapa fasilitas dan lokasi studi di Sumatera dan Kalimantan.

Video Terkait