Krisis Minyak Global Menghadang, Investor Khawatirkan Bisnis Migas

Logo Saudi Aramco digambarkan di fasilitas minyak di Abqaiq, Arab Saudi 12 Oktober 2019. (Antara/Reuters/Maxim Shemetov)

Penulis: Yoyok, Editor: Reza P - Selasa, 24 Mei 2022 | 15:30 WIB

Sariagri - Dunia menghadapi krisis pasokan minyak utama karena sebagian besar perusahaan takut berinvestasi di sektor ini sementara di sisi lain mereka menghadapi tekanan energi hijau. 

Hal itu diungkapkan Kepala Saudi Aramco, Amin Nasser, kepada Reuters di sela-sela Forum Ekonomi Dunia di Davos seperti dikutip Antara, Selasa (24/5). 

Amin Nasser menambahkan saat ini Aramco sebagai produsen minyak terbesar dunia tidak dapat memperluas kapasitas produksi lebih cepat dari yang dijanjikan.

Hanya saja, Amin Nasser menegaskan pihaknya berpegang teguh pada target peningkatan kapasitas menjadi 13 juta barel per hari dari 12 juta barel saat ini pada 2027, meskipun ada seruan untuk melakukannya lebih cepat.

"Dunia berjalan dengan kapasitas cadangan kurang dari 2,0 persen. Sebelum Covid, industri penerbangan mengonsumsi 2,5 juta barel per hari lebih banyak dari hari ini. Jika industri penerbangan menambah kecepatan, Anda akan menghadapi masalah besar," kata Nasser

"Apa yang terjadi di Rusia-Ukraina menutupi apa yang akan terjadi. Kami mengalami krisis energi karena kurangnya investasi. Dan itu mulai menggigit setelah pandemi," tambahnya.

Nasser mengatakan pembatasan wilayah akibat Covid di China tidak akan bertahan lama dan oleh karena itu permintaan minyak global akan melanjutkan pertumbuhannya.

Arab Saudi saat ini memproduksi 10,5 juta barel per hari, atau setiap sepersepuluh barel di dunia, dan kemungkinan akan meningkatkan produksi menjadi 11 juta barel per hari akhir tahun ini ketika pakta yang lebih luas antara OPEC dan sekutu seperti Rusia berakhir.

Riyadh telah menghadapi seruan dari Barat untuk meningkatkan produksi lebih cepat dan memperluas kapasitas lebih cepat untuk membantu memerangi krisis energi.

"Jika kami bisa melakukannya (memperluas kapasitas) sebelum 2027 kami akan melakukannya. Ini yang kami katakan kepada pembuat kebijakan. Itu butuh waktu".

Nasser juga mengatakan dialog antara industri minyak dan pembuat kebijakan mengenai transisi dari bahan bakar fosil ke energi yang tidak menghasilkan emisi karbon telah bermasalah.

"Saya tidak berpikir ada banyak dialog konstruktif yang terjadi. Di area tertentu kami tidak dibawa forum diskusi. Kami tidak diundang ke COP di Glasgow," katanya merujuk pada konferensi iklim PBB tahun lalu di Glasgow, Skotlandia.

Dia juga mengatakan pesan tahun lalu dari Badan Energi Internasional (EIA) bahwa permintaan minyak dunia akan turun dan tidak ada investasi baru dalam bahan bakar fosil yang diperlukan berdampak besar.

"Kami membutuhkan dialog yang lebih konstruktif. Mereka mengatakan kami tidak membutuhkan Anda pada 2030, jadi mengapa Anda pergi dan membangun proyek yang memakan waktu 6-7 tahun. Pemegang saham Anda tidak akan mengizinkan Anda melakukannya".

Oleh karena itu, proses transisi energi seringkali terbukti kacau dan mengganggu, katanya.

"Tidak ada rencana yang bagus. Ketika Anda tidak memiliki rencana B, jangan menjelek-jelekkan rencana A," katanya. 

"Tekanan dan retorikanya adalah - jangan berinvestasi, Anda akan memiliki aset yang turun nilainya. Itu membuat CEO sulit untuk melakukan investasi."

Apa yang disebut teori stranded asset (aset yang mengalami penurunan nilai) adalah gagasan bahwa cadangan minyak dan gas yang signifikan dibiarkan tidak digunakan karena dibutuhkan lebih lama.

Nasser mengatakan kesalahan langkah selama transisi energi global hanya akan mendorong penggunaan batu bara yang lebih besar oleh banyak negara Asia.

Baca Juga: Krisis Minyak Global Menghadang, Investor Khawatirkan Bisnis Migas
Harga Minyak Naik Tipis, Kekhawatiran Resesi Imbangi Prospek Permintaan

"Bagi pembuat kebijakan di negara-negara itu, prioritasnya adalah menyediakan makanan untuk rakyatnya. Jika batu bara dapat melakukannya setengah harga, mereka akan melakukannya dengan batu bara".

Dia mengatakan Aramco, di mana Kerajaan Arab Saudi adalah pemegang saham utama, berbeda karena berinvestasi dalam bahan bakar fosil dan transisi energi.

"Itulah perbedaan kami dari yang lain. Tapi apa yang kami tambahkan tidak cukup untuk memenuhi keamanan energi dunia."

Video Terkait