PLTA Ganggu Deteksi Rudal, Kemhan Jepang Minta Perubahan Pemasangan

Ilustrasi PLTA. (Foto: Unsplash)

Editor: Putri - Senin, 13 Juni 2022 | 18:00 WIB

Sariagri - Infrastruktur pembangkit listrik tenaga angin (PLTA) yang dipasang di seluruh Jepang diketahui mengganggu radar Pasukan Bela Diri Jepang (Japan Self-Defense Forces/JSDF) untuk mendeteksi rudal.

Hal tersebut mendorong Kementerian Pertahanan Jepang (Kemhan) menyerukan perubahan dalam beberapa proyek pembangunan energi tenaga angin.

Mengutip Japan Today, dalam beberapa kasus, Kemhan juga menyerukan agar infrastruktur tersebut tidak dipasang di daerah yang telah dipilih oleh pemerintah untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga angin. Tepatnya di area dekat lepas pantai.

PLTA yang dipasang di lepas pantai sering disebut-sebut oleh Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri sebagai solusi untuk memperluas energi terbarukan. PLTA lebih siap diterima Jepang setelah bencana nuklir Fukushima 2011.

Ketiga kementerian tersebut telah menetapkan lima lokasi sebagai tempat yang menguntungkan untuk memanfaatkan angin lepas pantai.

Tetapi Kementerian Pertahanan meminta beberapa perairan di lepas pantai Prefektur Aomori di timur laut untuk dibiarkan begitu saja. Hal tersebut dikarenakan turbin angin yang dipasang di sana dapat mengganggu radar yang digunakan dengan rudal permukaan-ke-udara.

Kekhawatiran atas ancaman rudal dari Korea Utara semakin meningkat karena negara tersebut telah meningkatkan uji coba rudal balistik selama 2022. Termasuk yang mendarat di perairan Aomori pada Maret 2022.

Selain uji coba rudal, pesawat pengebom China dan Rusia terbang di atas perairan dekat Jepang pada Mei. Hal tersebut mendorong Angkatan Udara JSDF untuk menyerang pesawat tempur tersebut sebagai tanggapan.

Menurut Asosiasi Tenaga Angin Jepang, total 2.574 turbin tenaga angin telah dipasang di Jepang pada akhir 2021.

Peninjauan Kembali

Akibat isu keamanan tersebut, Pemerintah Jepang saat ini sedang mempertimbangkan untuk meninjau kembali aturan yang mengatur pemasangan infrastruktur tenaga angin.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Jepang belum mengungkapkan kasus-kasus spesifik terkait sulitnya pelacakan rudal. Termasuk beberapa di antaranya berada di lepas pantai.

Area yang telah ditunjuk sebagai pemasangan infrastruktur tenaga angin kini menjadi subjek perubahan atau penyelidikan proyek. Beberapa operator energi tenaga angin diminta untuk merevisi proyek mereka.

Namun, tidak ada undang-undang yang memungkinkan kebutuhan pertahanan digunakan sebagai alasan untuk membatasi pembangunan infrastruktur di atas tanah. Hal tersebut membuat seorang pejabat pemerintah berkomentar bahwa situasinya bisa menjadi "cacat" yang merusak keamanan nasional.

Menurut Kementerian Pertahanan Jepang, radar JSDF memancarkan gelombang radio yang memantulkan objek, dengan sinyal kembali yang memungkinkan objek tersebut ditemukan.

Tetapi turbin angin besar terkadang memblokir gelombang radio atau membuat sinyal pantul yang lebih besar, membuat objek yang dipantulkan seperti rudal dan pesawat lebih sulit dideteksi.

Insfrastruktur tenaga angin sebagian besar terletak di sepanjang garis pantai atau di daerah pegunungan, dengan beberapa di antaranya berada dalam jangkauan deteksi radar SDF. Angkatan Udara JSDF memiliki radar peringatan di 28 lokasi di seluruh area Jepang.

Beberapa turbin angin tingginya lebih dari 100 meter dan memiliki dampak yang sangat besar pada radar, dengan beberapa diketahui telah menghalangi pengamatan cuaca oleh Badan Meteorologi Jepang.

Baca Juga: PLTA Ganggu Deteksi Rudal, Kemhan Jepang Minta Perubahan Pemasangan
Tekanan Terus Terjadi, IHSG Ditutup Melemah

"Kami sekarang bermasalah karena tiba-tiba disuruh mengubah rencana yang telah kami buat sesuai aturan," kata seorang pejabat operator energi tenaga angin yang enggan menyebut namanya.

"Kementerian Perdagangan dan Kementerian Industri serta Kementerian Pertahanan seharusnya berkoordinasi dalam hal ini," tutupnya.

Video Terkait