Harga Minyak Menguat Dipicu Terbatasnya Pasokan Saat Perdagangan Bergejolak

Sebuah pompa minyak bekerja saat matahari terbenam di dekat Midland, Texas, AS, Rabu (21/8/2019). (Antara/ Reuters//Jessica Lutz/am).

Editor: Yoyok - Selasa, 14 Juni 2022 | 09:15 WIB

Sariagri - Harga minyak sedikit menguat di sesi perdagangan yang bergejolak pada akhir perdagangan Senin (13/6) atau Selasa (14/6) pagi WIB). Ini terjadi karena pasokan global yang ketat melebihi kekhawatiran bahwa permintaan akan tertekan oleh meningkatnya kasus Covid-19 di Beijing dan lebih banyak kenaikan suku bunga.

Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Agustus naik 26 sen atau 0,2 persen, menjadi menetap di 122,27 dolar AS per barel. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Juli bertambah 26 sen atau 0,2 persen, menjadi ditutup di 120,93 dolar AS per barel.

Perdagangan bergejolak pada Senin (13/6) dengan WTI mencapai level terendah intraday 117,47 dolar AS per barel. Patokan global diperdagangkan serendah 118,95 dolar AS per barel di awal sesi. Kedua tolok ukur tersebut menyentuh level intraday terendah sejak 7 Juni.

Pasokan minyak terbatas, dengan OPEC dan sekutunya tidak dapat sepenuhnya memenuhi peningkatan produksi yang dijanjikan karena kurangnya kapasitas di banyak produsen, sanksi terhadap Rusia dan kerusuhan di Libya yang telah memangkas produksi.

Minyak telah melonjak pada 2022 karena invasi Rusia ke Ukraina pada Februari menambah kekhawatiran pasokan dan karena permintaan pulih dari penguncian terkait pandemi Covid-19. Pada Maret, Brent mencapai 139 dolar AS, tertinggi sejak 2008. Pekan lalu, kedua harga acuan minyak naik lebih dari satu persen.

"Kami kesulitan dengan hilangnya (minyak) Rusia jadi sekarang tambahkan tanda seru dengan situasi Libya," kata Robert Yawger, direktur eksekutif energi berjangka di Mizuho.

Pada Sabtu (11/6), harga rata-rata bensin AS melebihi 5,0 dolar AS per galon untuk pertama kalinya, data AAA menunjukkan.

Menimbulkan kekhawatiran permintaan, distrik terpadat di Beijing, Chaoyang, mengumumkan tiga putaran pengujian massal untuk memadamkan wabah Covid-19 yang "ganas".

"Kami tidak tahu apa yang akan terjadi dengan China. Suasana saat ini suram," kata Phil Flynn, analis Price Futures.

Kekhawatiran tentang kenaikan suku bunga lebih lanjut, diperkuat oleh data inflasi AS pada Jumat (10/6) yang menunjukkan indeks harga konsumen naik 8,6 persen bulan lalu, juga menekan harga minyak lebih rendah.

Baca Juga: Harga Minyak Menguat Dipicu Terbatasnya Pasokan Saat Perdagangan Bergejolak
Harga Minyak Turun Tipis di tengah Kesepakatan OPEC+

Pasar keuangan lainnya juga jatuh, karena investor khawatir bahwa Federal Reserve dapat memperketat kebijakan terlalu agresif dan menyebabkan perlambatan ekonomi yang tajam. Indeks S&P 500 berada di jalur untuk mengkonfirmasi pasar bearish. Keputusan kebijakan Fed berikutnya adalah pada Rabu (15/6).

Di Eropa, Francesco Giavazzi, penasihat ekonomi terdekat Perdana Menteri Italia Mario Draghi, mengatakan pada Senin (13/6) bahwa kenaikan suku bunga Bank Sentral Eropa bukanlah cara yang tepat untuk menahan lonjakan kenaikan harga-harga.

Video Terkait