Harga Minyak Menguat, Pasokan Ketat Bayangi Penurunan Permintaan Global

Kilang minyak lepas pantai milik perusahaan asing (Pixabay)

Editor: Yoyok - Selasa, 21 Juni 2022 | 09:15 WIB

Sariagri - Harga minyak mentah bergerak lebih tinggi dalam perdagangan yang volatile pada penutupan perdagangan Senin (20/6) atau Selasa (21/6) WIB. Penguatan ini karena trader fokus pada pasokan yang ketat atas perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melonjak 1,01 dolar AS atau 0,9 persen menjadi 114,13 dolar AS per barel. Brent jatuh 7,3 persen pekan lalu untuk penurunan mingguan pertama dalam lima pekan.

Sementara, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate terakhir diperdagangkan naik 61 sen atau 0,56 persen menjadi 110,17 dolar AS per barel, dalam perdagangan yang relatif tenang, karena  long weekend  di AS. Harga front-month  WTI merosot 9,2 persen pekan lalu untuk penurunan pertama dalam delapan minggu.

"Kita memiliki dua narasi yang benar-benar bersaing. Salah satunya adalah sanksi terhadap pasokan Rusia (mendukung harga). Di sisi lain, kita melihat harga yang tinggi mengakibatkan tekanan pada permintaan," kata konsultan minyak Houston, Andrew Lipow.

Senin, harga Brent menyentuh level terendah dalam sebulan sebelum pulih kembali.

"Pasokan akan tetap ketat dan terus mendukung harga minyak yang tinggi. Norma bagi ICE Brent masih di sekitar 120 dolar AS," kata analis PVM, Stephen Brennock.

"Kasus  bullish  tetap jauh lebih meyakinkan," kata Craig Erlam, analis OANDA.

Sanksi Barat mengurangi akses ke minyak dari Rusia setelah invasinya ke Ukraina.

Analis dan investor meyakini resesi lebih mungkin terjadi setelah Federal Reserve, Rabu pekan lalu, menyetujui kenaikan suku bunga terbesar dalam lebih dari seperempat abad guna menahan lonjakan inflasi.

Pendekatan pengetatan serupa oleh Bank of England dan Swiss National Bank minggu lalu pun terjadi.

"Penurunan harga yang tajam pada Jumat lalu dapat dilihat sebagai reaksi tertunda terhadap kekhawatiran tentang resesi yang membebani harga komoditas lain untuk beberapa waktu," kata analis Commerzbank, Carsten Fritsch.

Kendati impor minyak mentah China dari Rusia sepanjang Mei melambung 55% dari tahun sebelumnya ke rekor tertinggi, menggeser Arab Saudi sebagai pemasok utama, kuota ekspor China mengakibatkan penurunan ekspor produk minyak.

Pasar produk olahan yang ketat mendukung harga minyak.

Produksi minyak Libya masih bergejolak menyusul blokade oleh kelompok bersenjata di timur negara itu, dengan outputnya baru-baru ini dipatok 700.000 per hari.

Baca Juga: Harga Minyak Menguat, Pasokan Ketat Bayangi Penurunan Permintaan Global
Harga Minyak Naik setelah Jatuh karena Kekhawatiran Resesi Ekonomi

Sementara itu, prospek pengurangan sanksi Iran yang dapat menghasilkan peningkatan yang berarti dalam ekspor minyak mentah negara itu semakin meredup.

Ada beberapa mitigasi bagi pasokan yang ketat dengan pelepasan cadangan minyak strategis, yang dipimpin Amerika Serikat. Produksi minyak mentah mingguan di Amerika Serikat, produsen utama dunia, juga telah kembali ke tingkat sebelum pandemi ketika jumlah rig tumbuh perlahan.

Video Terkait