Uni Eropa Berencana Tidak Akan Gunakan Gas Rusia Sepenuhnya

Ilustrasi pipa gas. (Foto: Pixabay)

Editor: Putri - Jumat, 24 Juni 2022 | 17:25 WIB

Sariagri - Para pemimpin Uni Eropa akan membahas bagaimana mereka akan mengatasi keadaan tanpa gas Rusia. Salah satu negara Uni Eropa yaitu Jerman, telah mewaspadai adanya kelangkaan gas dan menghemat untuk musim dingin.

Pertemuan para pemimpin Uni Eropa dilaksanakan di Brussel, menjadi refleksi yang bijaksana tentang dampak ekonomi dari invasi Rusia ke Ukraina.

Mengutip Reuters, Jumat (24/6/2022), para pemimpin dari 27 negara Uni Eropa akan menyalahkan invasi Rusia ke Ukraina atas melonjaknya inflasi dan melemahnya pertumbuhan global.

Menyusul sanksi Barat yang belum pernah terjadi sebelumnya, belasan negara Eropa sejauh ini telah terpukul oleh pemotongan aliran gas dari Rusia. Hal tersebut memicu pencarian pasokan alternatif di seluruh negara Eropa.

"Hanya masalah waktu sebelum Rusia menutup semua pengiriman gas," kata seorang pejabat Uni Eropa.

Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck memperingatkan negaranya sedang menuju kekurangan gas jika pasokan Rusia tetap rendah seperti saat ini. Beberapa industri harus ditutup pada musim dingin.

"Perusahaan harus menghentikan produksi, memberhentikan pekerja mereka, rantai pasokan akan runtuh, orang akan berutang untuk membayar tagihan pemanas mereka," katanya kepada majalah Der Spiegel, menambahkan itu adalah bagian dari strategi Presiden Rusia Vladimir Putin untuk memecah negara.

Surat kabar Italia melaporkan bahwa Roma menyerukan para pemimpin Uni Eropa untuk berkumpul kembali pada pertengahan Juli yang untuk membahas kemungkinan batas harga gas Rusia yang diajukan oleh Perdana Menteri Italia Mario Draghi.

Para pemimpin negara Uni Eropa akan meminta eksekutif Uni Eropa untuk memberikan solusi pasokan energi sebagai tanggapan atas berhentinya impor gas Rusia.

Baca Juga: Uni Eropa Berencana Tidak Akan Gunakan Gas Rusia Sepenuhnya
Menteri ESDM: Indonesia Fokus Gunakan Energi Hijau Produksi Dalam Negeri

Mereka juga akan menekankan ekonomi mereka tetap kuat secara fundamental dan berjanji untuk tetap bersatu dalam menanggapi tantangan yang ditimbulkan oleh perang, yang disebut Rusia sebagai "operasi militer khusus."

Inflasi di 19 negara yang berbagi mata uang euro telah melesat ke level tertinggi sepanjang masa, yaitu di atas 8 persen. Eksekutif Uni Eropa memperkirakan pertumbuhan ekonomi turun menjadi 2,7 persen tahun ini.

Video Terkait