Warga Tokyo Diminta Tetap Hemat Listrik meski Gelombang Panas Meningkat

Ilustrasi suhu panas. (Foto: Pixabay)

Editor: Putri - Rabu, 29 Juni 2022 | 12:30 WIB

Sariagri - Pelaku bisnis dan rumah tangga di Tokyo, Jepang, diminta untuk membatasi penggunaan listrik. Hal tersebut dikarenakan gelombang panas akan mencapai puncaknya untuk saat ini, mendorong margin listrik ke tingkat yang sangat tipis.

Mengutip Bloomberg, Rabu (29/6/2022), rasio cadangan listrik ibu kota akan turun di bawah level 3 persen yang dianggap sebagai minimum untuk jaringan stabil. Jumlah tersebut diperkirakan akan turun menjadi 0,5 persen sekitar pukul 5 sore waktu setempat, menurut koordinator jaringan listrik negara itu.

“Tolong hemat listrik semaksimal mungkin, seperti dengan mematikan lampu yang tidak digunakan,” kata Kementerian Ekonomi, Perdagangan, dan Industri.

Pasokan listrik Jepang diperketat ketika gempa bumi di timur laut memaksa beberapa pembangkit listrik tenaga nuklir untuk menangguhkan operasi. Pada saat yang sama, penggunaan listrik berada pada level tertinggi sejak 2011 atau ketika Jepang dilanda gempa bumi terkuat dalam sejarahnya.

Cuaca panas yang melanda sebagian besar daerah di Jepang semakin memberi tekanan pada suplai listrik karena penggunaan pendingin meningkat. Suhu di prefektur Gunma selatan diperkirakan mencapai 40 derajat Celsius, menurut badan meteorologi negara tersebut.

Baca Juga: Warga Tokyo Diminta Tetap Hemat Listrik meski Gelombang Panas Meningkat
Prancis Pertimbangkan untuk Kembali Buka Pembangkit Listrik Batu Bara

Tokyo mengalami gelombang panas paling parah pada Juni sejak 1875, menurut Asosiasi Cuaca Jepang. Gelombang panas Jepang hanyalah salah satu dari banyak yang terjadi di seluruh dunia karena para ilmuwan memperingatkan cuaca ekstrem akan sering terjadi karena krisis iklim yang memburuk.

Temperatur yang melonjak di India dan Pakistan dalam beberapa pekan terakhir memaksa sekolah untuk tutup, merusak tanaman, memberi tekanan pada pasokan energi dan membuat penduduk terus berada di dalam rumah. Beberapa ahli mempertanyakan apakah panas seperti itu cocok untuk kelangsungan hidup manusia.

Video Terkait